Sorry, saya terpaksa pause seri campaign tracking saya lagi hehehehe… Ini isu yang muncul mendadak akibat pertemuan saya kemarin.
Jadi ceritanya begini..
Saya bertemu dengan beberapa orang kriminal online tersohor; ini foto-foto mereka:

Mereka adalah mas Ismujiarso dari Virtual Consulting, Kristin Amelina dari Detik dan Pitra Satvika dari Media ide.
Kami berempat bertemu Jumat kemarin untuk ngobrol dan diskusi santai. Sempat muncul perdebatan yang cukup hangat tetapi isi dari pertemuan itu sendiri cenderung ringan. Kami sempat membahas soal entry mas Ismu di blog Virtual yang saya komentari; mas Tuhu (dari Virtual Consulting juga) dan tweetnya yang mengundang “engagement” *ehem* juga sempat disebut-sebut. Tidak ketinggalan juga pembicaraan mengenai beberapa gosip-gosip dunia dan selebritis online serta problem-problem yang dihadapi oleh komunitas online di Indonesia (atau pulau jawa lebih tepatnya) dan sebagainya.
“Trus lo ngapain bikin entry ginian ndu?”
Saya mendapat beberapa masukan untuk blog ini secara tidak langsung dari mereka bertiga dan saya ingin mencoba untuk mengklarifikasikan hal tersebut melalui entry ini.
Pitra: “Sebenarnya entry blog lo ga usah sampai sedalam itu”
Kristin: “Gue ga ngerti entry lo yang terakhir itu ndu”
Pitra: “Gue heran ini orang nulis blog bisa panjang banget gitu”
Pandu: “Gue baca tulisannya mas Ismu panjang gitu asik-asik aja”
Kristin: “Nah hebatnya mas Ismu kalo nulis biar panjang gue ga pernah stop pas bacanya. Punya lo pas paragraf ke dua gue udah ga ngerti”
Mas Ismu: Hehehehe…
![]()
Pandu:
(padahal dalam hati udah pengen ambil parang)
Pertama saya ingin bertanya mengenai isi blog ini
dan saya harap kamu mau menjawabnya. Tolong bantu saya dengan ikut memberikan masukan untuk blog ini
- Kamu suka tulisan-tulisan di entry-entry yang saya buat?
- Apakah kamu mengerti apa yang saya sampaikan lewat entry blog ini?
- Kalau kamu tidak mengerti, apakah kamu tidak mengerti karena kamu tidak pernah tau soal apa yang saya katakan (cth. Google Analytics) atau kamu tidak mengerti karena penjelasan saya susah dimengerti?
Tolong dicatat jawabannya sekarang. Tulisan ke bawah akan cukup kontroversial dan cukup menarik untuk beberapa dari kamu. Saya takutnya kamu akan lupa menjawab 3 pertanyaan ini.
Kalau soal panjangnya entry saya…
Panjaaaaannnggggg
Dan amin-amin… kamu bisa mendapatkan suatu nilai yang langsung bisa kamu terapkan untuk kasus kamu sendiri. Buat apa kamu belajar internet marketing kalau nilai yang kamu dapat tidak bisa kamu terapkan? Buat apa kamu belajar internet marketing tapi kamu bingung kalau mau diterapkan harus mulai darimana? Buat apa kamu belajar internet marketing tapi nilai yang kamu dapat baru bisa diterapkan kalau X sudah terjadi, atau kalau Y sudah tersedia? Fuck that shit man, I’ll give you something you can do right here, right now.
Saya tidak ingin itu terjadi di blog ini; Saya tidak ingin memberikan nilai yang ada di awang-awang. Saya ingin kamu pas baca entry saya langsung *cetek* “oalah ternyata bisa begini toh..” dan kamu bisa langsung pergi ke situs kamu / situs client kamu dan langsung menerapkan apa yang barusan kamu baca. Atau setidaknya kamu mendapatkan wawasan baru yang membuka celah baru di pikiran kamu.
Nah special untuk Kristin
Saya yakin Kristin bukan satu-satunya yang bingung akan isi dari beberapa entry yang saya tulis. Jadi saya akan coba jelaskan apa framework yang saya buat dalam penulisan saya. Siapa tahu dengan memberikan gambaran besar, kamu bisa lebih mengerti (ammmiiiinnnnnnn)
Saya yakin kamu sudah pernah melihat judul dan tagline blog ini. Saya merasa perspektif orang Indonesia akan bidang online marketing masih banyak yang salah kaprah. Dan kalaupun sudah bertobat dan masuk ke jalan yang benar *ehem*, biasanya masih belum mendapatkan gambaran besarnya dan / atau esensi dari internet marketing itu sendiri. Entah belum pernah dipikirkan, atau memang malas mencari tahu.
Da nhal tersebut menjadi motivasi saya untuk menulis blog ini: saya ingin meredefinisikan ulang dan menghidupkan kembali internet marketing di mata orang Indonesia. Saya tidak menganggap saya sudah PRO dan berhak menceramahi orang-orang. Saya hanya seorang yang sangat antusias dengan dunia ini dan saya ingin menjadi evangelist akan bidang Internet Marketing dengan membuka definisi, esensi yang sesungguhnya. Tentunya juga disertai dengan penjelasan mengenai teknik-teknik dan aspek-aspeknya.
It’s that simple: saya hanya ingin memberikan pencerahan!
*BUG CTARR DZIGG AUU!!*
“PEDE banget lo ndu! Yakin bakal bisa memberikan pencerahan?”
Alasan pertama adalah karena background akademis yang saya punya: Cognitive Science. Cognitive Science adalah bidang yang mengintegrasikan 6 disiplin yang berbeda: psychology, philosophy, linguistics, artificial intelligence, computer science dan anthropology. Dan salah satu tujuan dari bidang tersebut adalah “figuring out the human mind”.
Banyak yang bertanya apa hubungannya cog.sci. dengan internet marketing. Saya selalu jawab “secara teoritis, tidak ada. Guru saya pernah berkata: pada akhirnya nanti, semua yang diajarkan di Cognitive Science mungkin salah. Karena dari itu, saya ingin kamu lulus dari cog.sci. dengan memiliki skill set yang kuat.” Karena nature dari cog.sci. itu sendiri, skill yang saya dapat dari pelajaran tersebut berupa: theoritical integration and formation, analytical skill, critical thinking and reading, dan problem solving.
Dan saya merasa skill set ini tepat sekali ketika diterapkan di dunia internet marketing dimana segala sesuatu terintegrasi dengan yang lain. Disadar atau tidak, ada banyak interconnectivity yang terjalin erat antara aspek-aspek di dunia internet. Dan skill set yang sudah saya dapatkan (integratice thinking) membuat saya bisa menikmati, mengamati dan berpikir mengenai interconnectivity tersebut.
Kedua, so far, semua teknik yang saya sudah filosofikan, dijadikan strategi dan taktik, dan kemudian diterapkan memberikan hasil yang sangat menyenangkan dan memuaskan; sesuai dengan apa yang saya mau. Dengan kata lain, saya tahu bahwa buah dari pemikiran saya ini memberikan manfaat yang nyata.
“Kok lo bisa tau, ndu?”
That’s the million dollar question.
Saya bisa tahu karena, hasil dari teknik dan pemikiran saya, saya beberkan secara berkala di dalam entry-entry web analytics yang saya tulis. Contohnya: saya pernah menjelaskan perkembangan Twitter dengan teknik web analytics. Saya pernah membuka kenyataan bahwa SEO tidak patut untuk didewa-dewakan karena traffic dari SEO bukanlah selalu yang terbaik.
Tetapi yang lebih penting di sini adalah, saya merasa bahwa pertanyaan di atas adalah titik awal mula dimana saya bisa mulai meredefinisikan internet marketing seperti yang saya mau. Saya yakin bahwa web analytics adalah bidang dengan kekuatan yang bisa merubah paradigma dan perspektif orang Indonesia akan internet marketing; saya yakin seyakin-yakinnya bahwa web analytics adalah kuncinya.
Why?
*** Jangan membaca lebih jauh kalau kamu tidak siap akan kontroversi. Kamu sudah diperingati. *** – kamu bisa skip ke bagian yang tidak kontroversial
.
.
.
Karena teknik-teknik internet marketing itu mirip agama dan web analytics itu seperti science
“Faith without science is blind; science without faith is lame”
- Albert Einstein
Selama ini yang saya lihat, orang-orang Indonesia (bahkan yang sudah di tingkat professional sekalipun!) melakukan SEO, social networking, social media campaign, online advertising dan sebagainya tanpa mempertanggung-jawabkan hasilnya ke dalam bentuk yang relevan dengan perkembangan client mereka.
Campaign campaign campaign; faith faith faith. Where’s the scientific proof?
Ok ok.. mereka melakukan SEO dan membuat situs client dilist di halaman pertama Search Engine. SO WHAT? Memangnya menjadi halaman pertama search engine menjamin usaha client berkembang? No. And if yes, I want the proof.
Ok ok.. mereka melakukan social media campaign dan membuat banyak mention di twiter dan facebook fans mereka bertambah. LALU APA? Apakah banyaknya mention di twitter dan facebook fans kamu ada di KPI perusahaan client kamu? No. And if yes, get me the proof.
Buktikan kepada saya!
Bandingkan jika kamu bisa menunjukkan bahwa usaha campaign di Twitter dan Facebook yang kamu lakukan tidak hanya membuat banyak buzz dan menarik banyak orang, tetapi juga memiliki direct impact ke perkembangan client kamu dari segi Return On Investment.
Bayangkan jika kamu bisa menunjukkan bahwa facebook fans kamu bukan hanya sekedar angka banyaknya fans, tetapi fans-fans tersebut berkontribusi untuk memperluas reach campaign kamu dan mendatangkan lebih banyak pengunjung ke situs kamu.
Bayangkan jika semua buzz yang akibat usaha campaign kamu bisa kamu translate menjadi sebuah bukti nyata bahwa campaign tersebut membuat perkembangan awareness masyarakat akan client kamu di dunia online sehingga mengalahkan kompetitor client kamu dengan margin sekian percent.
You see?
Saya melihat banyak marketing campaign yang dilakukan para online professional di Indonesia hanyalah sebuah “good intention” / niat baik; “Good intention” agar eksis di social media, “good intention” agar memiliki peringkat tinggi di SERP, “good intention” agar meningkatkan peringkat adwords, “good intention” agar pengunjung site x melihat banner dan sebagainya.
But guess what,
client kamu tidak perduli seberapa baiknya niat kamu; mereka perduli bagaimana usaha kamu bisa membantu mereka berkembang. They want real proofs, they don’t want preaches.
Perusahaan kamu masih hidup sekarang karena client kamu masih bodoh. Mereka masih “oh iya, oh iya” saja. Mereka dikasih apa, mereka telan mentah-mentah. Tetapi ketika mereka sudah mulai kritis, mereka akan mulai menanyakan benefit yang tangible dan relevan dari semua jasa yang kamu tawarkan untuk perkembangan client kamu (here’s the best part) dalam. bentuk. nyata.
Can you give it to them? No? You’re (or at least, will be) fucked.
Angka facebook fans/twitter mention/peringkat SERP hanyalah ukuran e-penis. Sure, makin besar, terlihat makin wow. Tapi apakah ukuran e-penis akan menjamin good sex? Nope.
Itulah yang saya percayai dan ke sanalah saya akan pergi
Atas dasar kepercayaan tersebutlah, walaupun blog ini membicarakan beragam aspek-aspek internet marketing yang ada dan isinya saya tulis secara integratif, titik berat blog ini ada pada web analytics. Karena web analyticslah yang bisa memberikan bukti-bukti atas usaha marketing online kamu.
Dan di sini saya ingin berbagi dengan kamu agar kamu tidak “get fucked”. Saya ingin kita bisa belajar bersama agar usaha internet marketing kamu bisa dipertanggung-jawabkan dalam bentuk yang nyata di depan client kamu. Saya ingin client kamu bisa terkesan akan hasil usaha kamu karena kamu telah membantu mereka berkembang dan mereka bisa melihat buktinya dalam bentuk yang bisa mereka mengerti.
Bagi kamu yang belum tahu akan web analytics dan / atau belum pernah membaca tulisan saya akan web analytics, saya sangat sangat sangat menyarankan kamu membacanya terlebih dahulu. Agak panjang memang, tapi bahasanya lebih ke arah bisnis dan bukan teknis. Jadi seharusnya kamu bisa menikmatinya *lirik Kristin* Trust me
Saya harap di entry kali ini saya sudah cukup banyak sharing isi pikiran dan skema yang saya terapkan untuk blog ini. Dan saya berharap sharing session ini bisa membantu beberapa dari kamu yang kebingungan akan tulisan-tulisan saya untuk bisa lebih mengerti dan bisa lebih enjoy membaca tulisan saya.
Kalau kamu tidak ingin kebingungan, saya menyarankan kamu mengklik link-link yang tertera di dalam entry-entry saya karena link tersebut saya tujukan ke entry lainnya yang bisa menjelaskan lebih jauh mengenai hal tersebut. Atau lebih mudahnya, kamu bisa subscribe dan follow blog ini.
That’s all for now folks!
Happy (belated) Valentine and Gong Xi Fat Choi
Email entry ini ke teman kamu
Kalau kamu suka entry ini, mungkin kamu juga akan suka:
RT 
via RSS
via e-mail:

{ 38 comments… read them below or add one }
waah.. postingan ini ngeri banget! ada banyak F wordnya, haha..
yang lo bilang tentang ROI
gw suka baca blog2 tentang social media di luar (tapi ga inget link2nya), emang ROI pada Social Media itu masih jadi perdebatan. ngukurnya pake apa? karena ini masih baru, beda kaya traditional marketing. oh iya itu cuma di social media, kalo internet marketing overall gw nggak tahu.
terus yg tulisan2 tentang blog lo sendiri, tentang panjang dan dalemnya pembahasan lo, itu ga masalah sama sekali buat gw.. plus baca diskusi2nya, gw juga asik aja buat ngikutin.. meski kadang2 suka pusing mikir, hehehe.. overall gw suka kok dgn tulisan2 lo..
oh iya, lo udah kenal pak Nukman Luthfie belum? bosnya mas Mumu, mas Tuhu, dan bosnya orang2 Virtual (ya iyalah, dia kan foundernya). kalo lo diskusi ama beliau, sepertinya bakal seru banget tuh..
Asikkk ada Ilman
Kapan kita ketemuan lagi nih man?
@”…, emang ROI pada Social Media itu masih jadi perdebatan. ngukurnya pake apa?”
Rasanya lebih tepat kalau ditanyakan terlebih dahulu: apa yang mau diukur? Karena alat ngukurnya tergantung dari goal yang ditetapkan.
Contoh: kalau tujuannya awareness, coba hitung ada berapa banyak orang yang tweet mengenai campaign tersebut. Kemudian lihat melalui google insight bagaimana efek dari campaign tersebut; kata apa yang diasosiasikan orang-orang melalui google insight. Coba monitor perkembangan brandnya dengan Google Alert. Dan tentunya hitung langsung ROI dengan web analytics tool.
Dan gue juga ingin tegaskan di sini bahwa adalah paradigma yang salah kalau ROI harus selalu diasosiasikan dengan aspek finansial. Jadi perhitungan melalui web analytics tool (walaupun sebaiknya juga menghitung secara finansial) harus menghitung aspek yang lainnya juga seperti consumer evangelism. Setelah campaign, berapa banyak “gosip” yang terjadi di dunia online tentang brand si campaigner secara positif?
Whatever it is, measure it. Tidak harus secara finansial tapi setidaknya kita sebagai praktisioner internet/digital/online/apalah marketing memiliki kewajiban untuk menunjukkan hasil usaha kita dalam bentuk yang relevan dengan perkembangan usaha client.
@”oh iya, lo udah kenal pak Nukman Luthfie belum?”
Belum kenal man. Waktu itu sempet reply blognya tentang homeschooling atau formal schooling. Trus waktu WordCamp juga sempet liat pas kita ambil makan siang, tapi sayangnya belum sempet ngobrol hehehe..
@”overall gw suka kok dgn tulisan2 lo..”
Thanks buat dukungannya, man! Always nice having you here
Du, kok posting ini panjang banget sih *siap-siap diparang*
brb ke gudang
further comment please!
ini nulis sambil mrh2 krn kelaparan atau gmn?? byk amat F*** nya.. haha.. back to the topic, secara tulisan sih mnrt gw ga masalah, dpt dimengerti dan asik2 pembahasannya, tp kl emg lu ngincer semua org yg dtg ke blog ini ngerti ttg definisi internet marketing spt yg lu blg, ada baiknya lu mst mempertimbangkan masukan2 yg lu dpt, tulisan lu (mungkin) musti aga sdkt ‘adaptasi’ aja kali dgn online behaviournya org indonesia (eh eh bnr ga yah tuh bhsnya?? apa aga asbun gw? hehe)
“Selama ini yang saya lihat, orang-orang Indonesia (bahkan yang sudah di tingkat professional sekalipun!) melakukan SEO, social networking, social media campaign, online advertising dan sebagainya tanpa mempertanggung-jawabkan hasilnya ke dalam bentuk yang relevan dengan perkembangan client mereka.”
atas dasar hal tsb mknya tiptos kita bakal berkembang Ndu.. hehe
hauhauahuahuah
ngga marah.. tapi emang kalo orang barat yang passionate kalo ngomonk ceplas ceplos. Kayanya gue udah kelamaan di luar
Itu emang gayanya dan ga ada offense yang ditujukan ke siapa-siapa.
@”kl emg lu ngincer semua org yg dtg ke blog ini ngerti ttg definisi internet marketing spt yg lu blg, ada baiknya lu mst mempertimbangkan masukan2 yg lu dpt”
Gue kebalik. Gue maunya orang-orang yang datang adalah orang yang bisa / mau mengerti dan memiliki passion yang sama dengan gue.
I dunno, let’s see what happens deh soal cara kontennya ini; gue sendiri masih bingung enaknya gimana :S
haha sampe dibahas disini, ikut komentarnya. gw diluar featuring sih.
so far kalo baca gw gak ada masalah, gw suka isi, penggunaan bahasa sama perumpamaannya. yaa ada sih yang musti dibaca ulang, gak ngerti karena asing (diluar bidang saya, multimedia and design)
kalo boleh saran, tulisannya mending tetep kaya gini (itu uda ciri khas dan secara gak langsung menggambarkan karakter si penulis) mungkin kalo ada bahasa/perumpamaan yang mungkin ‘sulit’ di notes aja.
cuma yang menarik disini penggabungan cog.sci sama internet marketing *so effin interesting!
“Peningkatan kualitas bangsa dimulai dari konten yang berkualitas” – me
(02:46:18 PM) Pandu Truhandito: gimana tulisannya? masi ga bisa ngerti juga?
(02:46:21 PM) Pandu Truhandito: awas lo!!
(02:46:22 PM) Pandu Truhandito: X-( wkwkwkw
tetep yah tulisan lo msh panjang juga..
tp tenang.. kali ini gue baca ampe abis ko. meskipun kesimpulan gue masih sama “panjang!” *mijitinmata* hehe
wow… sayang sekali aku gak bisa ikut dengerin sharingnya
jadi, meski sebuah brand buzznya sangat dahsyat di twitter, fb dst namun tak menaikkan pageview apalagi penjualan apakah programnya di sebut gagal?
hmmm……
Halo kw,
selamat datang di blog ini
“jadi, meski sebuah brand buzznya sangat dahsyat di twitter, fb dst namun tak menaikkan pageview apalagi penjualan apakah programnya di sebut gagal?”
Pertama, pageviews / penjualan bukanlah the only metrics di web analytics; karenanya disebut web analytics dan bukan site analytics.
Kedua, dari sisi saya sendiri, saya tidak pernah mengatakan bahwa bentuk pembuktian harus pageviews atau yang sifatnya moneter.
Beberapa quote dari saya:
- “Bayangkan jika kamu bisa menunjukkan bahwa facebook fans kamu bukan hanya sekedar angka banyaknya fans, tetapi fans-fans tersebut berkontribusi untuk memperluas reach campaign kamu dan mendatangkan lebih banyak pengunjung ke situs kamu.”
- “Bayangkan jika semua buzz yang akibat usaha campaign kamu bisa kamu translate menjadi sebuah bukti nyata bahwa campaign tersebut membuat perkembangan awareness masyarakat akan client kamu di dunia online sehingga mengalahkan kompetitor client kamu dengan margin sekian percent.”
- Reply to Ilman: “Whatever it is, measure it. Tidak harus secara finansial tapi setidaknya kita sebagai praktisioner internet/digital/online/apalah marketing memiliki kewajiban untuk menunjukkan hasil usaha kita dalam bentuk yang relevan dengan perkembangan usaha client.”
Jadi sekali lagi, saya tidak pernah menekankan metrics dalam bentuk yang fixed (pageview, money or whatever). Yang saya tekankan adalah pengukuran harus relevan dan tangible dengan perkembangan si client, whatever that metrics may be
Dan menurut saya pribadi, kalau metrics brand buzz hanya menjadi brand buzz dan tidak berkembang menjadi sesuatu yang meaningful untuk usaha si client, pelaku online marketing tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Brand buzz saja bukanlah penjelasan yang satisfying; take it few steps further karena seorang bos akan, most likely, berkata “explain to me how brand buzz contributes to my improvement”.
Tin,
prasaan alesan kenapa panjangnya udah gue jelasin di atas deh
@pandu jadi selain statistik dari web analytic, berapa pageview, unique visitor dst, gmn cara mengukur buz di soc media untuk mengasilkan angka yang “fix”.
thx
Klarifikasi sedikit: “fixed” yang saya maksud di atas adalah tidak ada metrics yang tetap untuk mengukur; semuanya tergantung dari apa tujuan dari campaign itu sendiri.
Kalau tujuannya dari buzznya itu sendiri adalah brand awareness, coba diterapkan cara yang sudah saya tulis untuk Ilman:
- “Contoh: kalau tujuannya awareness, coba hitung ada berapa banyak orang yang tweet mengenai campaign tersebut. Kemudian lihat melalui google insight bagaimana efek dari campaign tersebut; kata apa yang diasosiasikan orang-orang melalui google insight. Coba monitor perkembangan brandnya dengan Google Alert.”
Kalau tujuannya lebih ke arah peningkatan penjualan, coba hitung seberapa efektif campaign tersebut mendatangkan leads / sales compared to control condition (ketika tidak ada campaign)
Kalau tujuannya ke arah konversasi dengan consumer, coba hitung:
- kuantitas konversasi yang terjadi
- reach dari konversasi yang terjadi di social media
- return visitor vs new visitor measurement
- measurement akan goal dari konversasi itu sendiri – kalau ingin lebih dekat, measure apakah orang-orang menggunakan sarana kontak yang sudah disediakan (preferably segemented special untuk campaign)
Sertakan juga kualitatif measurement dengan:
- peer review untuk kualitas konversasi
- kalau tujuan konversasi agar lebih dekat dengan consumer: peer review apakah kontak yang terjadi memang bernuansa personal/lebih dekat ketimbang tidak ada campaign
- bagaimana konversasi yang ada berubah dengan adanya campaign ketimbang ketika tidak ada campaign
Banyak possibility yang bisa dijelajahi dan framework dari possibility itu sendiri tergantung / di-fix-kan oleh apa goal campaign tersebut
ok thx
Ok kalau ini pertanyaan serius
Mengenai pengukuran ROI memang sangat bergantung dari objektif campaignnya. Bisa jadi antara konsultan digital pun memberikan pengukuran yang beda (meski objektifnya sama). Misal: konsultan A cenderung mengukur total tweet mention per hari. Atau konsultan B cenderung melihatnya dari google blogsearch, dll. Mungkin ini sih yg sebetulnya perlu dipertanyakan. Biar standar, pakai ukuran yang mana?
Lalu ngomong2 tentang pengukuran, di awal kampanye suatu program, pasti akan diminta ekspektasi ROI-nya. Nah, bagaimana mengira-ngira ekspektasi ROI tersebut, kalau kampanyenya saja belum berjalan? Apalagi di dunia social media, semua serba dynamic. Mau pakai referensi kasus kampanye lama juga belum tentu relevan dengan kasus kampenye yang akan dihadapi.
Akhirnya…
@”…, antara konsultan digital pun memberikan pengukuran yang beda (meski objektifnya sama)”
This is a very interesting point. Gue berpikir sifatnya masih komprehensif: semua yang perlu diukur ya harus dilaporkan. Tapi mungkin ini bisa solved kalo campaignnya well-defined. Kalau memang campaignnya mau diselenggarakan melalui media tertentu, I guess prioritas pengukuran ada di sana. Mungkin kalau merembet-rembet ke media yang lain juga bisa dilaporkan.
@”Nah, bagaimana mengira-ngira ekspektasi ROI tersebut, kalau kampanyenya saja belum berjalan?”
Ini juga poin yang sangat bagus.
Bukannya ini hal yang sama dengan kerjaan manapun? Advertising secara offline pun kalau ditanyakan hal yang sama kita juga tidak bisa memberikan ekspektasi yang pasti. Yang bisa kita berikan cuma track record dari past experience kita. Dan gue setuju, dynamic nature dari dunia internet secara keseluruhan cuma bisa memperparah prediksi.
I guess ini problem yang di luar scope internet marketing. Rule of thumb: under promise, over deliver
Sebenernya sih tulisan panjang ga masalah ,asal asik untuk dibaca. Cuma MEMANG di beberapa post saya langsung males untuk bacanya karena penuh dengan kata-kata yang asing di telinga saya dan saya bener-bener ga ngerti dengan apa yang dibicarakan. Maklum, saya orang Indonesia dan mas Pandu juga orang Indonensia dan pernah kuliah di luar negeri dan mungkin karena perbedaan yang signifikan tersebut (Toronto dan Jakarta kan jauh) ada perbedaan dalam dan daya tangkap terhadap suatu tulisan. Yah…secara postingan blog ini banyak menggunakan kata-kata yang harus ditelusuri dulu di kamus untuk dimengerti. Saran saya sih, coba gunakan kata-kata yang tidak asing, kalo pembaca udah mulai terbiasa, baru deh naikkin level KERUMITAN kata-kata tersebut sampai pembaca terbiasa dengan kata-kata rumit.
Halo Reza,
thank you buat masukkannya
“…, penuh dengan kata-kata yang asing di telinga saya dan saya bener-bener ga ngerti dengan apa yang dibicarakan.”
Mungkin karena beda umur dan beda level pendidikan?
Ya emang saya sadar bahwa level pendidikan kita dan umur kita memang jauh, dan saya berusaha untuk memahami kata-kata tersebut. Saya ingin bertanya, BERAPA yang sudah mas Pandu hasilkan dari Internet Marketing? Tentunya orang-orang akan lebih percaya pada tulisan mas Pandu kalo misalnya mas Pandu sendiri sudah terbukti menghasilkan sesuatu, dan jika saya boleh tahu, berapa trafik blog ini per hari?
Sepertinya persepsi kita mengenai internet marketing sangat berbeda. Saya tidak mengincar pendapatan secara moneter dari blog ini.
Mungkin kamu seharusnya bertanya APA yang sudah saya hasilkan melalui blog ini dan / atau usaha internet marketing yang sudah saya terapkan.. then we can talk
Kalau soal trafik rasanya selalu saya buka ketika saya membahas soal web analytics bukan? Di semua chart saya dapat dilihat berapa visit yang terjadi seharinya.
Oke, kalo gitu saya akan bertanya APA yang sudah anda hasilkan dari blog ini?
Beberapa dari blog dan teknik internet marketing yg sudah saya terapkan:
1. Jaringan ke komunitas online yang makin meluas dan bertemu dengan tokoh-tokoh online yang sudah lebih terkenal
Nama saya di google.co.id juga sudah tercantum sebagai salah satu suggestion
2. Brand awareness naik: sudah beberapa kali saya mendapatkan “Oh, pandu yang itu?” di beberapa event online atau dengan nada senada hehehehe
3. Sewaktu saya masih mengurusi situs pertama saya (forexfaculty.net – sekarang sudah tidak ada lagi), saya mendapatkan tawaran kerja sama dari broker berbasis (kalau tidak salah) Singapur (CityIndex) dan sebuah broker yang.. saya tidak tahu asalnya tapi cukup terkenal (Instafx atau something like that) tapi yang datang ke rumah saya orang Russia
4. Tawaran kerja sama dari perusahaan startup yg dikelola Andika Alivano (salah satu komentator reguler di sini juga)
5. Tawaran bekerja di SemutApi Colony (salah satu perusahaan terkenal dalam bidang brand & marketing communication). Dan pekerjaan saya yang sekarang ini juga saya dapat berkat kontribusi blog ini
5. Tapi yang paling saya banggakan adalah saya sudah berhasil membantu orang-orang yang sebelumnya tidak pernah mengerti betul akan internet marketing (seperti gardino) dan berarti saya mulai berhasil menyebarkan gerakan untuk meredefinisikan internet marketing ini ke beberapa pihak
Berarti mas Pandu adalah orang yang terkenal berkat blog, betul? Mas PAndu belom menghasilkan uang ( udah belom?), tapi sudah branding terlebih dahulu, sekiranya memang hal ini sangat lumrah (sotoy mode : on). Kira-kira kapan mas Pandu akan mulai menghasilkan sendiri dari situs mas Pandu sendiri, saya cuma nanya ya….no offense
Kalau dibilang terkenal rasanya belum pantas, Reza. Mungkin lebih tepatnya saya sudah menjadi “lebih dikenal” oleh orang-orang di niche saya.
@”Mas PAndu belom menghasilkan uang ( udah belom?), tapi sudah branding terlebih dahulu, sekiranya memang hal ini sangat lumrah (sotoy mode : on).”
Cukup lumrah tetapi saya juga tahu ada orang yang berhasil menghasilkan uang tanpa branding terlebih dahulu.
Dulu saya pernah membaca artikel. Banyak anggapan yang salah akan popularitas dan monetization. Orang sering berpikir bahwa: jika terkenal, pasti uangnya banyak. Tetapi itu salah. Banyak juga orang yang sudah sangat terkenal di dunia online tetapi hanya sedikit menghasilkan uang. Dan ada juga yang sebaliknya.
@”Kira-kira kapan mas Pandu akan mulai menghasilkan sendiri dari situs mas Pandu sendiri, saya cuma nanya ya”
Kalau ditanya begitu, sejujurnya, no idea.
Monetization bukan tujuan utama saya di blog ini. Saya hanya ingin meredefinisikan dan mengedukasi masyarakat Indonesia akan pengertian dan teknik internet marketing yang sesungguhnya. Sudah, titik. Kalau itu sampai tercapai, saya rasa saya sudah goal terlepas dari apakah saya berhasil monetize blog ini atau tidak.
Walaupun demikian saya memang berharap akan ada cukup pemasukan untuk menghidupi situs ini (sekitar 1.2 juta per tahun) dan kalau bisa sampai lebih dari itu, terus terang saya akan cukup terkejut karena itu bukanlah tujuan utama saya membuat blog ini hahaha..
Mungkin ke depannya saya akan actually “mencoba” untuk menjual sesuatu melalui blog ini, tetapi itu adalah sesuatu yang masih jauh di depan.
Saya setuju dengan yang pernah dikatakan oleh Matt Mullenweg (pencipta WordPress) ketika dia datang ke WordCamp di Indonesia tahun lalu. Dia bilang begini ketika ada peserta yang meminta saran untuk memonitize blognya:
(thanks to Ilman Akbar akan kutipannya). Jadi dia berpendapat bahwa kita tidak mendapatkan duit DARI blog kita, melainkan kita mendapatkan duit KARENA blog kita. Saya sedang menuju ke arah sana; blog ini sudah membuka banyak kesempatan untuk saya pribadi dan saya push terus kesempatan tersebut setiap harinya to the limit. Tetapi kalau ditanya kapankah saya akan mendapatkan Rupiah pertama saya KARENA blog ini? Saya sendiri tidak tahu
Berarti blogger yang berhasil menghasilkan uang melalui penjualan ebook seperti Darren Rowse sangatlah berbeda dengan Cosa Aranda yang mempunya ratusan domain yang dipake untuk Adsense, benar?
mungkin sebaiknya pertanyaan tersebut kamu email ke saya karena sudah semakin keluar dari scope entry ini
I’d be glad to answer
yah du, memang betul kata Kristin: gaya nulis u (maaf) memble, walaupun topik tulisannya bagus.
Halo Aditya,
Selamat datang di blog ini
Terima kasih buat masukannya. Boleh tahu contoh di mana kurangnya? Kalau cuma dibilang gaya tulisan memble, saya tidak tahu bagian mana yang perlu saya perbaiki
Thanks dit
mungkin kaya yang aku bilang ndu, kata-kata/istilah sulit kamu notes aja. trs cari pendekatan/perumpamaan kasus yang lebih deket sama keseharian. sekali-sekali boleh lah kasi konten yang singkat padat jelas. biar gak ada lagi yang bilang tulisan kamu panjang semuaaaaa. hehe.. soal gaya tulisan gak usah dirubah. tetep aja kaya gini.. gak ada yang perlu diperbaiki kok, trust me! ‘ciri khas’ kamu dan berkualitas.
*kalo sempet aku sumbang desainin header..
Kalau saya sedih sekaligus marah dengan keberadaan blog ini…karena sudah menyadarkan saya bahwa yang saya pelajari (otodidak) selama tiga tahun kebelakang tentang internet marketing itu ternyata ndak sampai 5% dari ilmu yang sebenarnya. Dan gawatnya saya sadarnya hanya selang dua hari dari setelah saya menemukan blog ini dan melahap seluruh tulisannya dari awal sampai posting terakhirnya (saya ulang sekali lagi…cuma dua hari!!).
mungkin ini terdengar seperti kissing your ass. Tapi sungguh deh, saya jadi “terpaksa” membongkar semua web dan blog komersial yang saya punya mulai dari struktur teknisnya sampai strategi marketingnya gara-gara baca blog ini. Thanks to you man!
Jadi kalo soal panjang postingnya saya gak masalah. Buktinya dua hari kelar semua saya baca. Ayo…saya tunggu posting berikutnya!
Halo Gardino,
Salam kenal dan selamat datang di blog ini
Whoa.. I don’t know what to say, hahaha.. Ini jenis response yang paling membuat saya bahagia karena saya sudah berhasil membantu 1 orang lebih banyak untuk meredefinisikan internet marketing.
Sejujurnya saya yang harusnya berterima kasih ke kamu. Kalau tidak ada orang seperti kamu dan komentar seperti ini, semangat saya sebagai seorang evangelist mungkin bisa turun. Terima kasih banyak untuk supportnya, Gardino. Dan terima kasih juga untuk feedbacknya.
ga usah peduli respon dari orang luar, keberagaman intepretasi itu tidak melulu dapat dilihat secara subjektif, seperti pada logika fiksi kita mempercayai hall-hal yang tidak dapat dijawab oleh logika; yang penting nulis aja terus…
Halo Arief,
terima kasih untuk kunjungannya dan salam kenal ya
Ya bagaimana pun saya juga tidak bisa terlalu idealis dan hanya mementingkan sudut pandang saya sendiri saja. Saya mencoba mengadaptasikan tulisan saya sampai batas-batas yang saya sendiri bisa toleransi.
Terima kasih banyak untuk dukungannya, Arief
Top 7 Commentators..
Sampai kapanpun yang punya blog ini akan selalu jadi Pemenang sebagai Top 7 Commentators..
hehehehehehehehe…
Di filter dunk mas..
Halo,
sudah lama ngga keliatan
Iya kamu benar, seharusnya saya tidak masuk ke jajaran top 7. Kalau untuk filter saya memakai plugin untuk top 7 commentator jadi kalau mau exclude diri saya sendiri saya harus masuk ke kodingnya dan sayangnya saya bukan programmer hehehe.. (saya sudah bikin blog ini jebol terlalu sering gara-gara utak-atik kode >< )
Met kenal mas Pandu…
Saya nggak sengaja mampir ke blog ini karena kebetulan lihat di mybloglog saya hehehe…
Eh ternyata blognya keren juga (maksud saya dari segi konten n ilmunya)…
Saya memang bukan orang yang memiliki background marketing laiknnya mas Pandu..tapi mau tidak mau semenjak saya kecil bersentuhan dengan dunia jual-menjual n marketing karena prangko..
Hmm..berbicara tentang integrated marketing.. pertama kali saya menemukan istilah itu saat baca buku Marketing management terbitan Prentice Hall (kalo gak salah)..Saat itu dunia internet marketing belum trend seperti skrang..
Dulu saya mikir simpel..kalo di dunia nyata ada namanya IMC (Integrated MArketing Communication), kalo semenjak ada dunia maya, seperti apa? bukannya konsepnya sama yah? kalo di dunia nyata ada direct mail, word of mouth, etc..kalo di dunia maya penerapannya gimana yah?..semakin ke sini ilmu itu semakin berkembang ternyata..dulu saya tidak tahu istilah apa itu situs jejaring semacam FS, FB, Wayn, etc..Jadi saya tulis aja istilahnya social networking engine… eh ternyata kini saya baru tahu kalo istilahnya sebenarnya adalah social media…
Saya pribadi sependapat dengan mas Pandu, bahwa branding di dunia maya ataupun marketing tidak harus terukur dari monetization ataupun eksistensi si penulis.blogger itu..sebab kan tergantung idealisme awal dia buat blog itu…Apakah tujuannya untuk berbagi ilmu/pengalaman, atau mencari uang, atau lainnya…
Sebenarnya saya sangat tertarik dengan ilmu yang pernah mas pelajari yaitu cognitive science.. sebab semakin ke sini yang dibutuhkan oleh industri adalah orang-orang yang berpengetahuan (era pekerja pengetahuan/knowledge management), n setelah itu pekerja kreatif.. Pekerja kreatif dalam hal ini menurut saya pribadi adalah orang-orang yang memiliki ‘creative idea’..tak terbatas dalam bidang disiplin ilmu apapun itu..Nah kalo dalam cognitive science itu istilahnya apa yah?… Then apakah dalam cognitive science juga dipelajari tentang ‘learning’ ataupun ada keterkaitan dengan educational technology’? Sebab saya tertarik dengan bidang kreatif, edukasi, HPT/KM/learning Org, branding, n multimedia …dimana dalam pikiran saya..kesemuanya itu saling terkait…Kalau di Indonesia saya tidak tahu bidang apa yang mencakup itu semua tuk saya pelajari (jikalau suatu saat meneruskan S2), nah kalo di luar sono..apakah itu bidangnya?cognitive science atau Multimedia & instructional design?
Keep on writing..and nice to meet you ^_^!
Halo mbak Maydina,
selamat datang dan salam kenal!
Kemarin memang saya sempat main ke blognya mbak May.. saya kira mbak membahas online marketing juga
Btw tumben loh ada reply yg sepanjang ini.. saya jadi terharu hahahaha.. Biasanya cuma saya yg reply panjang lebar dan ujung-ujungnya diprotes massa
@”pertama kali saya menemukan istilah itu saat baca buku Marketing management terbitan Prentice Hall (kalo gak salah)”
Wah menarik sekali! Saya ingin membacanya
@”Nah kalo dalam cognitive science itu istilahnya apa yah?… Then apakah dalam cognitive science juga dipelajari tentang ‘learning’ ataupun ada keterkaitan dengan educational technology’?”
Kalau soal creativity itu masuk ke dalam psychology (bagian dari cognitive science juga) dan ada scientific research dan explanationnya. Mungkin kita harus bertemu dan membahas ini lebih jauh
Kalau educational technology secara spesifik mungkin belum ada. Tapi cognitive science juga dalam pursuitnya untuk memformalkan human cognition juga mau tidak mau akan masuk ke philosophy dari education dan technology itu sendiri dan impactnya ke cognitive system kita. Profesor saya sempat menyentuh hal ini sedikit ketika saya mengambil cognitive psychology dulu.
@”Sebab saya tertarik dengan bidang kreatif, edukasi, HPT/KM/learning Org, branding, n multimedia …dimana dalam pikiran saya..kesemuanya itu saling terkait”
Saya setuju. Saya merasa semuanya terkait. Hanya saja kebanyakan orang malas untuk berpikir dan dengan kedok “make it simple” mencoba untuk membuat hal yang sebenarnya integrated, terkait, berkesinambungan, saling menginfluence satu sama lain, menjadi sesuatu yang konkrit, diskrit, dan definitif. Padahal sebenarnya tidak.
@”apakah itu bidangnya?cognitive science atau Multimedia & instructional design?”
Rasanya tidak ada bidang yg mengarah ke sana. Yang bisa saya sarankan adalah mengambil bidang yang mbak senangi (learning, branding, multimedia) dan dilengkapi juga dengan bidang dengan nature yang integrative (seperti cognitive science) agar mbak bisa mengapresiasikan elemen-elemen lainnya yang terkait dan tidak hanya terfokus kepada 1 hal saja (design saja atau branding saja)
Atau setidaknya, belajar terus akan hal-hal yang mbak senangi dibarengi dengan diskusi bersama praktisi lainnya. Biasanya hal-hal baru, insight, kreatifitas lahir dari knowledge yang luas yang diberikan kesempatan untuk saling berasosiasi dengan cara yang belum pernah terpikirkan sebelumnya
Terima kasih sudah mau mampir dan komentar, mbak Maydina. Saya tunggu kunjungan berikutnya