Case study ini dimaksudkan sebagai sebuah narasi yang menghibur tapi juga provokatif. Jika ada fanatik twitter di sini, saya mohon jangan ambil entry ini sebagai sebuah propaganda untuk menyerang media favorit kamu tersebut.. karena saya tidak berniat demikian
Kesimpulan yang saya ambil dirangkum dari berbagai sudut pandang: psikologi, filosofi, dan tentunya internet marketing, khususnya competitive intelligence dan web analytics. Di sini kamu akan dibawa berkelana ke dunia perbandingan antar situs, ke alam penelitian satu perangkat handphone dan ke dalam jaringan social media dimana kamu akan dibawa kembali ke bulan July 2009. Semuanya akan kita lewati bersama melalui entry ini untuk menilik 1 pertanyaan: “Bagaimana twitter bisa menjadi booming di Indonesia?” Enjoy yourself.
P.S. Semua gambar bisa diclick untuk melihat versi besarnya; penting untuk mengerti keseluruhan dari entry ini.
Entry ini berawal dari perjalanan saya ke Lawang minggu lalu. Saya pergi untuk menjenguk kakek nenek saya (dari ibu). Dalam perjalanan pulang, ketika saya sedang menunggu pesawat yang menuju balik Jakarta, ayah saya bertanya:
“To (nama rumah saya = dito), twitter itu apa si?”
“Ooh.. itu salah satu social media yang begini begini begini..”
“Oooo”
Saya pun berpikir “perasaan dulu ibu pernah bertanya hal yang sama,.. sekarang gantian ayah..”. Dan saya juga berpikir bahwa mereka sudah memiliki account facebooknya sendiri-sendiri. Mereka memang belum begitu lama join di facebook tapi rasanya mereka mulai ada ketertarikan ke twitter. Mungkin ketertarikan tersebut sama dengan ketika mereka tertarik untuk join di Facebook.. gara-gara pengaruh teman-teman mereka kali ya, hehehe…
Dan semuanya itu membuat saya sadar bahwa twitter sudah menjadi sangat populer. Padahal ketika saya keluar dari perusahaan tempat saya bekerja pertama (kira-kira bulan April), twitter masih hanya berupa sebuah buzzword. Dan dalam kurun waktu 7 bulan, twitter menjadi begitu digandrungi; sehingga menarik perhatian emak-emak dan bapak-bapak juga. Quite amazing isn’t it?
Pertanyaan selanjutnya adalah “bagaimana bisa?”
Mari kita beralih ke Google Insight for Search, salah satu tool favorit saya, untuk melihat ketertarikan (secara global) orang-orang di Indonesia akan twitter. Saya ingin mencari tahu kapan orang-orang Indonesia mulai tertarik dan kemudian mencari tahu soal twitter. Saya mulai dengan membandingkan antara tahun 2008 dan 2009 untuk keyword “twitter”
Kita bisa melihat pada tahun 2008, hanya ada beberapa squiggle (lonjakan kecil) di grafiknya jika dibandingkan dengan tahun 2009. Setahun setelahnya, masyarakat mulai berminat dengan twitter sekitar bulan Februari 2009. Dari yang tadinya “flatline”, grafiknya mulai naik secara linear.
Apa penyebabnya?
Saya rasa tren kenaikan twitter difasilitasi oleh makin populernya mobile phone yang punya akses internet di mana saja, seperti blackberry.
Brian Arfi <a href=”http://fauzan.dhezign.com/676/social-media/pertumbuhan-pengguna-facebook-di-indonesia-tertinggi-di-dunia/” target=”_blank” onClick=”javascript: _gaq.push(['_trackEvent','Outbound Click','http://fauzan.dhezign.com/676/social-media/pertumbuhan-pengguna-facebook-di-indonesia-tertinggi-di-dunia/']);”>mengutarakan</a> kenyataan yang saya nilai sangat right on the mark mengenai blackberry dan facebook:
“Orang yang pingin facebookan jadi pingin beli Blackberry. Dan orang yang sudah punya BB jadi ngerasa nggak gaul kalo nggak facebookan.”
Ini adalah efek bootstrap dimana perkembangan facebook membuat blackberry semakin berkembang dan karena blackberry berkembang, penggunaan facebook (melalui blackberry) juga berkembang lebih jauh lagi.
Saya berargumen bahwa efek bootstrapping antara facebook dan blackberry ini terjadi juga pada twitter. Research yang dilakukan pada bulan Agustus kemarin oleh Rapleaf, sebuah badan penyedia social media solutions, menyatakan bahwa (saya kutip): walaupun twitter paling sering diakses dan digunakan melalui web, aplikasi-aplikasi mobile sudah berhasil mencuri user share dari web dan mendapatkan peringkat penggunaan yang tinggi. Sayangnya saya tidak memiliki / menemukan data konkrit untuk perkembangan penggunaan twitter melalui blackberry di Indonesia.
Blackberry juga adalah salah satu dari sedikit handphone / smartphone yang membuat aplikasi untuk twitter seperti ubertwitter yang mendorong para penggunanya untuk ikut berpartisipasi di situs jejaring tersebut.
Apakah ada faktor pendukung lainnya?
Pada bulan mei 2009, blog media-ide menulis sebuah entry mengenai kepopuleran twitter di Indonesia yang makin meningkat. Di sana disebutkan bahwa salah satu alasannya mungkin adalah banyaknya public figure yang sudah masuk duluan dan menggunakannya. Ketersediaan mereka untuk diakses di twitter adalah salah satu potensi pendongkrak popularitas twitter.
Ketertarikan orang-orang akan twitter memang sedang bergerak naik pada bulan mei. Tetapi walaupun meningkat, gradiennya masih linear. Saya tidak bisa menolak peranan public figure yang disebutkan di entry tersebut, tapi mereka bukanlah sebuah komponen yang necessary untuk perkembangan twitter. Alasannya adalah karena mereka tidak berkontribusi langsung dalam aspek-aspek kunci twitter. Ada mereka ataupun tidak, twitter tetap akan sukses walaupun mungkin dalam tempo yang lebih lambat. Mereka seperti minyak; mereka tidak dibutuhkan untuk membakar kertas, tapi kalaupun ditambahi minyak supaya lebih cepat terbakar juga tidak apa-apa.
Di lain sisi, Blackberry berkontribusi langsung kepada kesuksesan twitter. Twitter membutuhkan mobility agar potensinya bisa terlihat sepenuhnya. Selain frekuensi penggunaan menjadi lebih sering, jurnalisme tidak bisa dilakukan dari dalam rumah. Mereka harus ke luar, pergi, melihat-lihat sekitar… mobile! Dan sebagai salah satu handphone dengan kemampuan untuk online secara mobile, blackberry sangat mendorong potensi twitter untuk terus berkembang.
Tapi blackberry, all by itself, tidak akan menjelaskan secara sufficient anomali yang terjadi berikut ini:
Keanehan pada grafik minat masyarakat akan twitter
Coba kita teliti grafik ketertarikan orang-orang akan twitter di tahun 2009 sekali lagi. Seperti dapat dilihat di grafik di atas (scroll up), garisnya mulai naik dengan gradien yang cukup stabil sejak Februari. Yang ingin saya berikan perhatian lebih adalah transformasi kata penelusuran yang berhubungan dengan twitter.
Berikut adalah kata-kata untuk periode februari – april 2009 (peningkatan awal twitter):
Saya majukan bulan per bulan (april → mei; mei → juni, juni → juli). Transformasi pertama terjadi pada periode februari – juni:
Periode februari – juli menghasilkan transformasi besar:
Perhatikan kemunculan frase twitter blackberry pada bulan juli. Saya rasa ini adalah konfirmasi akan kontribusi blackberry untuk perkembangan twitter seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Tapi yang lebih menarik dari itu adalah..
Adanya spike yang disruptive di grafik ketertarikan orang akan twitter
Grafiknya (lihat lagi di atas) menunjukan perkembangan yang linear sejak februari. Tapi kalau kita fokuskan perhatian kita pada grafiknya untuk bulan juli, kita bisa melihat sebuah peningkatan dengan pattern yang exponential dan tidak linear. Ini menunjukkan adanya peningkatan ketertarikan yang abnormal, yang tidak sesuai dengan pola bulan-bulan sebelumnya.
Bayangkan situasi ini: katakanlah Jordan beauty products selama ini adem ayem saja. Kalau tiba-tiba namanya melonjak, menjadi eksis dan sering menjadi perbincangan, kita dapat berkesimpulan pasti ada sesuatu yang terjadi yang mengatasnamakan Jordan. Mungkin mereka melakukan campaign yang baru, atau mengeluarkan produk baru, atau apalah, tapi yang jelas pasti ada sesuatu yang terjadi yang berhubungan dengan mereka.
Dan dengan analogi yang sama, pasti ada sesuatu yang terjadi yang berhubungan dengan twitter sehingga terjadi lonjakan pada bulan Juli tersebut. Orang-orang sepertinya tiba-tiba banyak melakukan pencarian yang mengandung kata “twitter”. Dan karenanya kata penelusuran yang berhubungan dengan twitter pun seakan meledak.
Why?
Apa yang terjadi pada Juli 2009?
Saya melakukan pencarian yang lebih mendalam di periode bulan Juli melalui Google untuk kata twitter. Dan ini kutipan dari temuan saya pada peringkat #8:
Rahadian P. Paramita: #indonesiaunite ; Gerakan (Model) Baru, di …
28 Jul 2009 – Twitter, sebuah microblogging, belakangan mulai merebak setelah tersebar kabar … Entah berapa banyak pengguna Twitter di Indonesia ini, tapi diperkirakan …
prajnas.blogspot.com/…/indonesiaunite-gerakan-model-baru-di.html
It’s #indonesiaunite!!
Saya baru ingat bahwa ada peristiwa mengenaskan terjadi bulan Juli kemarin yang sangat berhubungan dekat dengan twitter. Peristiwa diliput pertama kali lewat twitter dan real-time journalism dipraktekkan langsung di lokasi oleh orang awam. Medium yang baru ini diberdayakan oleh orang Indonesia dengan cara yang remarkable.
Dan dari peristiwa inilah semangat nasionalisme yang dikristalkan dalam sebuah bentuk digital, yaitu hashtag #indonesiaunite, lahir. Twitter sudah memfasilitasi sebuah reformasi dalam bentuk penyebaran informasi secara broadcast. Instan, dari mana saja, real time update.
Efek dari kejadian gelap tersebut bagi twitter?
- Hasil cari untuk kata twitter untuk halaman-halaman dari Indonesia mencapai 2,2 juta hasil. Ini adalah jumlah terbesar dalam sejarah twitter di Indonesia sampai pada bulan Juli 2009.
- Penggunaan twitter.com berdasarkan Google Adplanner menunjukkan adanya peningkatan yang non-linear seiring dengan grafik ketertarikan (dari Google Insights) yang meningkat secara non-linear juga pada bulan Juli.
Apakah “The Real Culprit” dari kesuksesan twitter di Indonesia adalah tragedi bombing JW Marriot dan Ritz Carlton Juli kemarin?
Saya tidak bisa memungkiri kalau kejadian tersebut tidak terjadi, twitter terus akan berkembang di Indonesia. Mungkin dengan progress yang lebih incremental dan ketertarikan masyarakat berkembang sedikit demi sedikit. Tapi rasanya cukup adil bila saya mengatakan bahwa kejadian tersebut (dan aftermathnya) benar-benar membuka mata masyarakat Indonesia akan twitter, potensinya dan cara penggunaannya. Tanpa kejadian tersebut mungkin twitter baru mulai hot-hotnya sekarang ini atau tahun depan.
Jadi saya berkesimpulan bahwa kesuksesan twitter sampai saat ini di Indonesia dikarenakan menjamurnya perangkat handphone dengan kemampuan internet mobil (khususnya blackberry) tetapi katalis dari pertumbuhan itu sendiri adalah tragedi Juli 2009 kemarin.
*** JANGAN MEMBACA LINE BERIKUT INI KALAU KAMU TIDAK SIAP AKAN PROVOKASI DAN KONTROVERSI.. Highlight on YOUR OWN RISK ***
Kalau kita berpikir akan kejadian ini secara keseluruhan dalam tema crowdsourcing, korban yang berjatuhan bagaikan membawa elemen yang baru ke dalamnya: death. Ini kontroversial tapi kita melihat sendiri bagaimana kematian mereka tertangkap di dalam causal nexus (dimana kejadian, properti dan elemen dunia offline dan online melebur) sebuah real time jurnalisme yang merupakan sebuah bentuk crowdsourcing. Mereka seakan (secara tidak langsung) berpartisipasi untuk ikut ambil andil untuk meng-crowdsource-kan twitter dimana aftermathnya (#indonesiaunite) melonjakkannya lebih jauh lagi sampai ke top trending topic dunia saat itu.
It’s quite scary and.. was twitter being silently graceful of this? Bulu kuduk saya berdiri, jadi ini rasanya waktu yang baik untuk stop.
My deepest condolences and my utter respect untuk para korban tragedi. Saya harap kejadian serupa tidak terulang kembali (Get to Work, satpams and polices!!) . Kejadiannya sudah lewat dan apapun kesimpulan yang kita tarik dari sini, saya harap kita dapat lebih berguna lagi untuk nusa dan bangsa, dengan cara kita masing-masing.
What do you think? Apa pendapat kamu?
Email entry ini ke teman kamu
Kalau kamu suka entry ini, mungkin kamu juga akan suka:
RT 






via RSS
via e-mail:

{ 21 comments… read them below or add one }
Skrg ini sy jg byk dpt pertanyaan seputar Twitter. Sy blm riset lg sih tp kayanya Twitter booming setelah ada kasus Luna Maya.. Bnr2 iklan gratis buat Twitter
Halo Andika,
yap, betul. Interest orang akan Twitter memang meledak lagi setelah ada kasus tersebut.
Tapi saya berkeputusan untuk tidak membahas luna maya di case study ini… atau setidaknya belum
Hihi, postingan Mei itu sudah kadaluarsa memang. Versi updatenya ada di buku Twitter | Plurk. Saya cerita juga di situ kalau pemicu popularitas Twitter adalah Indonesia Unite. Kampanye yang bersifat crowdsourcing dan tanpa komando ini juga melebar dari Twitter ke Facebook (btw, salah satu kreator FB Page Indonesia Unite saya sebetulnya *ups*).
Di satu sisi memang miris kalau aksi berdarah ini membuat Twitter populer (kalau kita melihatnya dari kacamata bisnis). Modal kematian memicu popularitas traffic suatu site. Namun di sisi lain, media Twitter ini pula yang bisa memberikan nilai positif di mata dunia, kalau warga Indonesia sudah muak dan bosan dengan pemboman. Kata Indonesia Unite ini yang jadi ungkapan emosi dan semangat untuk bangun dan menunjukkan dunia kalau Indonesia itu aman (itu salah satu alasan kenapa menggunakan bahasa Inggris, dan bukan menggunakan kata Indonesia Bersatu – karena orang asing nggak akan paham artinya).
Apalagi setelah kasus ini menjadi bahasan di blog populer mashable.com, dan disebutkan di American Idol (kalau hashtag Indonesia Unite nomor satu dengan Paula Abdul saat itu nomor dua). Plus CNN dll, bisa dikatakan crowdsourcing tanpa komando siapapun ini berhasil dan saya bisa bilang, ini gerakan sosial online terbesar di Indonesia).
Lebih banyak tentang Indonesia Unite dan twitternya, pernah dibahas Leonita Julian di blognya http://www.leonisecret.com. Nita juga salah satu pelaku aktif Indonesia Unite hingga sekarang.
Wah! Bagus (atau malah jelek?) kalau kita ternyata memang sampai pada konklusi yang sama
Different sources pointing to the same conclusion menguatkan konklusi itu sendiri.
Umm.. saya setuju bahwa #indonesiaunite merupakan luapan emosi dan bentuk digital sebuah semangat nasionalisme sebagai reaksi dari aksi terorisme. Tapi saya ragu apakah twitter benar-benar memberikan nilai positif untuk indonesia melalui #indonesiaunite.
I guess pertanyaannya di sini adalah: “what exactly is the real value in the world for being the top trending topic for a certain period of time?” Saya terus terang tidak melihat adanya nilai dari trending topic itu sendiri. Di mata saya itu hanya bagaikan sebuah brand yang bersinar sesaat. Tapi brand equity tidak bisa dicairkan menjadi uang kalau tidak ada bentuk konkritnya (misalkan peningkatan penjualan). Or is it just me?
Mungkin sebagai salah satu penggerak motor indonesia unite, mas Pitra bisa membantu saya menjawab. Saya merasa komentar mas bahwa twitter ikut mengangkat nama Indonesia secara positif itu ada benarnya.. tapi di lain sisi saya juga merasa ada missing piece yang belum terpenuhi di sini.
Indonesia Unite kan bukan brand komersial. Jadi nggak bisa diukur dengan cara penjualan. Indonesia Unite lebih ke arah semangat, tidak ada yayasan atau lembaga di baliknya. Siapapun boleh mengklaim dan memakai Indonesia Unite asalkan tujuannya untuk membangun semangat nasionalisme.
Memang tidak ada pengukuran kuantitatif untuk menilai value saat hashtag itu menjadi trending topics selama 3 hari berturut-turut. Dalam 3 hari itu, siapapun yang mentweet hashtag itu ikut membantu membangun awareness kalau Indonesia bosan dengan aksi teroris, dan saat itu kami semua tidak takut karenanya. Harapannya dunia mendengar (dan ternyata mendengar) pesan positif yang kami berikan.
Mengenai bentuk konkritnya, hihihi, Leonita dan Pandji yang getol dan aktif mengurusi ini. Saya sih cuma bantu2 di belakang saja. Dari aksi sosial (aksisosial.indonesiaunite.com) membantu korban kebakaran hingga gempa di Padang. Dari aksi Blood for Life (bloodforlife.wordpress.com) di berbagai daerah.
Klarifikasi sedikit: mungkin saya kurang lengkap menjelaskannya. Maksud saya penjualan itu hanya salah satu contoh bentuk nyata.
Yang saya tanyakan adalah bentuk nyata dari menjadi trending topic di dunia. Kalau mas Pitra bilang itu membawa hawa positif di dunia, saya setuju. Tapi yang saya belum bisa lihat adalah koneksi dari twitter, trending topic, dsb dengan bentuk nyata di dunia aslinya. Kalau tidak ada bentuk nyatanya saya rasa hawa positif tersebut hanyalah tetap sebuah “hawa” yang.. ya itu tadi, how to quantify it? Kalau dalam istilah internet marketingnya saya menanyakan tentang “conversion” di dunia nyata.
@”Harapannya dunia mendengar (dan ternyata mendengar) pesan positif yang kami berikan”
Saya rasa ini sedikit menjawab pertanyaan saya.. hanya saja saya tidak tahu aksi konkrit yang terjadi secara lebih detil
Apakah mas Pitra tahu bahwa dengan #indonesiaunite menjadi trending topic mengalir dana sumbangan buat Indonesia yang lebih besar ketimbang tidak menjadi trending topic? Apakah trending topic tersebut membantu kepariwisataan Indonesia tetap pada level normalnya (dan tidak turun seperti biasanya kalau ada insiden terorisme)? Atau apa? Ini yang saya ingin tahu. Karena kalau hanya sekedar menjadi “top trending topic” di mata saya itu hanya sebuah brand yang nyala sebentar and then *poof*.
Terima kasih atas bantuannya mas Pitra
eh paragraf terakhir kok jadi salah artinya ya, kalimatnya harusnya dibalik plus dikoreksi.
)
Mengenai bentuk konkritnya, hihihi, Leonita dan Pandji yang getol dan aktif mengurusi ini. Dari aksi sosial (aksisosial.indonesiaunite.com) membantu korban kebakaran hingga gempa di Padang. Lalu ada Silly dari aksi Blood for Life (bloodforlife.wordpress.com) di berbagai daerah. Saya sih cuma bantu2 di belakang saja, dan nggak sempat punya waktu untuk terlibat di aksi nyatanya.
uwiih.. saya bayangkan kira kira ambil sehari dua hari full untuk bikin blogpost dengan analisis mendalam seperti ini mas Pandu.
It’s a nice boost for me to write a more in depth analysis about online marketing, but… still got work to do and a company to feed. haahha…
Great work!
Halo mas Brian,
Entry ini memang cukup memakan waktu hehehe.. Bahannya sudah saya kumpulkan tapi menyusun alur argumentasinya agar enak dibaca dan makes sense adalah tantangan yang tersendiri.
Terimakasih atas dukungannya nas Brian. Saya tunggu kunjungan berikutnya!
Sebuah analisa yang baik.
FB & BB back-to-back membawa Indonesia ke pengguna FB terbesar di Asia Pacific, dan menjadi salah satu negara pengguna Blackberry terbanyak. Ya karena memang rakyatnya banyak ya, walaupun kalau diliat pemerataan & penetrasinya masih jauh dibanding Vietnam, lebih-lebih Malaysia.
BB membantu Twitter juga setuju. Dua element ini juga cukup back-to-back lah.
Analisa soal trending topic juga kurang-lebih saya setuju. Walau buat saya masih cukup misteri bagaimana perhitungan trending topic. Karena kan pasti mereka yg menggunakan huruf khusus (seperti Jepang atau Rusia) kan pasti punya trending topic sendiri (yang lebih kecil).
Yang masih saya ingat, #IndonesiaUnite tidak hanya menjadi trending di malam hari (saat belahan bumi lain yg lebih banyak user nya di twitter bangun). 3 hari berturut-turut ini memang continue, or at least 2 hari lah.
Pencapaian trending topic buat saya tadinya sempat menjadi sesuatu yg menarik, tapi lama-lama kok sepertinya biasa aja. Banyak sekali yg muda menjadi trending topic sesaat, contoh: Manohara, MbahSurip, MeggyZ, dan masih banyak lagi yg lain (banyak jg yg berkaitan dengan kegiatan/aktivitas).
Apakah trending topic punya value positif untuk Indonesia?
Sebenernya ini seperti hal dasar marketing aja. Bagaimana untuk bisa keliatan di pasar yang penuh dan ramai? Ya musti bisa muncul di highlight section. Trending topic kita anggap sebagai highlight section. Waktu 2-3 hari cukup lah untuk ‘mencolek’ dunia bahwa reaksi dari bombing di Indonesia adalah Indonesia bersatu. Saya yakin banyak imbas yang terjadi pada dunia luar saat tahu reaksi kita terhadap bombing tersebut. Dunia kan musti tahu kalau kita tidak senang dengan peristiwa bom itu.
Walau #IndonesiaUnite memang tidak se-heboh Iran election, Michael Jackson, Google Wave, dll dll. Tapi ya lumayan lah.
Nah itu yang keluar. Yang kedalam?
(IMHO) Rasa kebangsaan & nasionalisme bangsa ini sudah cukup lama tertinggal, tidak tersentuh. Ketika rasa kebangsaan itu sudah jadi usang, orang jadi segan untuk mencul dengan rasa kebangsaan & nasionalisme itu. Takut dibilang aneh & sok-sok an. Satu-satunya kegiatan yg punya nilai nasionalisme bersama adalah saat nonton bola tim PSSI bertanding atau bulu tangkis.
Peristiwa bom-bom sebelumnya menyentil rasa kebangsaan ini, tapi semua terpendam di pribadi masing-masing. Karena ya itu tadi, nggak mau dibilang aneh. Nah hashtag menjadi jembatan dari ekspresi individu dengan crowd sourcing. Awalnya semua merupakan luapan emosi individu, tapi kemudian menjadi collaborative movement yang kemudian menggerakkan mereka-mereka yg berada diluar Twitter. Baru kemudian IndonesiaUnite bergerak menjadi dukungan terhadap organisasi-organisasi dengan semangat kebangsaan.
Jadi imbas positive nya sih ada tapi tidak langsung memang.
Banyak sekali yang pesimis & apriori terhadap IndonesiaUnite, nggak masalah sebenernya. Lebih baik bergerak maju daripada memikirkan mereka yang mundur.
Saya dengan banyak cerita bahwa banyak orang di Indonesia timur yang SANGAT menyambut baik dengan keberadaan semangat IndonesiaUnite. Buat mereka ini seperti air segar yang akhir datang.
Jadi, positive atau negative adalah bergantung bagaimana kita sendiri menyikapinya
Wow! Ini komentar yang sangat menarik!
Pertama saya ingin mengucapkan terima kasih banyak untuk kesediaan mas Ramya bersusah-susah menghubungi saya ketika kolom komentar ini diblokir oleh plugin saya. THanks!
Saya ingin mengutip ini:
@”Banyak sekali yg muda menjadi trending topic sesaat, contoh: Manohara, MbahSurip, MeggyZ, dan masih banyak lagi yg lain (banyak jg yg berkaitan dengan kegiatan/aktivitas).
Apakah trending topic punya value positif untuk Indonesia?
…, Trending topic kita anggap sebagai highlight section.”
This is IT! Ini yang saya coba ingin gali dari kemarin. Saya juga merasa kok seperti “biasa saja”.. tapi mungkin ini karena perspektif dari saya yang tidak terjun secara langsung ke dalam dunia tersebut. Dan karenanya saya ingin tahu lebih jauh efek dari hastag ini sendiri.
@”Walau #IndonesiaUnite memang tidak se-heboh Iran election, Michael Jackson, Google Wave, dll dll. Tapi ya lumayan lah.”
Ini mungkin karena proporsi masyarakat Indonesia yang melek dunia web 2.0 beleum sebanyak masyarakat di negara-negara lain. Selain itu, mata yang menuju dan actually care sama Indonesia jauh lebih sedikit dibandingkan mata yang menuju ke hal-hal yang mas sebutkan di atas.
@”…, collaborative movement yang kemudian menggerakkan mereka-mereka yg berada diluar Twitter. Baru kemudian IndonesiaUnite bergerak menjadi dukungan terhadap organisasi-organisasi dengan semangat kebangsaan.”
Okay, ini sedikit menjawab apa yang ingin saya tahu. Saya rasanya pernah melihat beberapa badan usaha yang mengusung hashtag ini. Tapi, kalau saya memakai kata-kata mas Ramya, apakah ini sekedar bentuk “marketing” atau memang ini adalah bentuk dan wujud nyata kepedulian mereka akan status negeri kita?
apakah ini sekedar bentuk “marketing” atau memang ini adalah bentuk dan wujud nyata kepedulian mereka akan status negeri kita?
Jawaban pertanyaan itu sebenarnya seperti pernyataan akhir saya: positive atau negative adalah bergantung bagaimana kita sendiri menyikapinya.
Ada yang menggunakan hashtag ini dgn bertujuan memperluas pesan nya, ada juga yang ‘meminjam’ untuk kepentingan usaha pribadinya. Tapi kan kalau usaha pribadi ini maju artinya industri dalam negri juga maju.
Banyak juga brand besar yang menggunakan hashtag ini, yah mari dilihat dari sisi baiknya aja. Karena dengan kemampuan & reach mereka artinya pesan #IndonesiaUnite sendiri semakin luas disampaikan.
Semangatnya kan positif, kalau kegiatan dan niat nya positif PASTI hasilnya positif.
Langsung dan tidak langsung ya (kalau langsung memang bisa diukur, tapi kalau tidak langsung kan sulit pengukurannya).
okay, terima kasih mas Ramya. Jawaban nggantung memang paling ngga enak, tapi ya terkadang saya rasa harus demikian adanya.. hehehe..
@”Karena dengan kemampuan & reach mereka artinya pesan #IndonesiaUnite sendiri semakin luas disampaikan”
Secara tidak langsung, jawaban ini menyinggung sedikit pertanyaan yang saya ajukan ke mbak Leonita di atas mengenai makna dan perspective akan #indonesiaunite itu sendiri
Thanks again!
Hi Pandu,ini saya, Leonita yg dibilang Pitra tadi. Thank u Pit!
Analisa Pandu tentang twitter bagus, tetapi maaf, tetapi maaf, terlalu dangkal kalau kesimpulan yang digarisbawahi di atas adalah ‘death’!
IndonesiaUnite bukan brand perusahaan jadi tujuan trending topicnya beda.
IndonesiaUnite muncul karena saat itu Indonesia spt sekarat, berita yg hadir di dlm negeri dan luar ttg sikon Indonesia sangat buruk, dianggap negara yg amat sangat tidak aman. Bahkan org Indonesia sendiri nyaris takut keluar rumah.
Wait, IndonesiaUnite bukan brand,Pandu, tapi sebuah semangat nasioalisme persatuan Indonesia.
Jadi tujuan trending topic saat itu adalah untuk menyadaran pihak luar bahwa sikon Indonesia saat itu tidak seburuk yang dikira.Indonesia masih aman dan nyaman, dan teroris hanyalah satu pihak yg tdk bertanggung jawab, yg justru ingin memperburuk nama Indonesia.
Dan we did it.Trending topik IndonesiaUnite jadi berita, baik di dalam maupun luar negeri. Sikon langsung berubah total saat itu, pihak asing mengetahui berita bahwa Indonesia masih normal sitasinya, dan ingat juga, scr tdk langsung berita baik or buruknya Indonesia itu sangat pengaruh ke perekonomian n pariwisata loh! Ini jg pengakuan salah satu guru marketing bahwa semangat IndonesiaUnite waktu itu sangat membantu, dan diakui juga oleh pihak dinas pariwisata.
Soal twitter tiba2 jadi trend, karena masyarakat Indonesia baru tahu bahwa twitter ternyata media yang sederhana tetapi bisa menghasilkan sesuatu yang besar. Memang case IndonesiaUnite memicu brand Indonesia untuk memanfaatkan twitter, tetapi tujuannya beda.
So sebaiknya dilihat whole package yaa.
IndonesiaUnite bkn utk komunitas kecil kok tapi tulus utk Indonesia keseluruhan, casenya agak sedikit beda dengan brand.terimakasih
Halo mbak Leonita,
Terima kasih banyak atas komentar dan pencerahannya. This is a very good perspective!
Pertama saya mau klarifikasi terlebih dahulu mengenai pandangan saya:
1. saya tidak melabelkan #indonesia unite dengan kata “brand”. Recap: kata yang saya pakai adalah “…, hanya bagaikan sebuah brand yang bersinar sesaat.” dimana saya hanya mengibaratkan / menganalogikan bahwa: kalau #indonesiaunite tidak menorehkan apapun dalam sebuah bentuk nyata, di mata saya itu analoginya seperti brand yang nyala kemudian redup.
2. dan saya menganggap bahwa #indonesiaunite adalah bentuk digital dari sebuah spirit dan semangat nasionalisme / kebangsaan seperti yang beberapa kali saya sebutkan di entry saya dan di komentar-komentar di atas
Sekarang kita beranjak ke komentar mbak
@”IndonesiaUnite muncul karena saat itu Indonesia spt sekarat, berita yg hadir di dlm negeri dan luar ttg sikon Indonesia sangat buruk, dianggap negara yg amat sangat tidak aman.”
Okay, kalau ditaruh dalam konteks berita, kabar dan sikon saya setuju sekali dengan yang diutarakan oleh mbak Leonita.
Jadi kalau menurut mbak Leonita, apakah kemunculan #indonesiaunite bagaikan perwakilan secara dari masyarakat Indonesia untuk tampil di mata dunia bahwa kita semua “tidak takut”?
Kalau ya, saya ingin mengajak mbak Leonita miring sedikit ke perspective yang lain. Perspective secara hollistic, whole package dan global memang bagus, tapi coba kita telusuri ke dalam lebih sedikit ke level lokal: level individual tweet. Apa pandangan mbak Leonita ketika hastag tersebut dipakai tidak sebagai perwakilan semangat nasionalisme, tapi cuma ikut-ikutan? Saya tahu beberapa tweet yang menyertakan #indonesiaunite tapi hanya karena that’s the hot stuff waktu itu dan bukan dari diri mereka sendiri. Tweet semacam itu bercampur dengan tweet yang memang benar-benar mengusung semangat Indonesia.
(Klarifikasi: ini hanya curiosity saya, dan sama sekali bukan pandangan saya) Kalau dilihat dari perspective secara lokal ini, bukankah #indonesiaunite adalah brand semata yang muncul just because it’s “trendy”? Atau mungkin mbak Leonita ada pandangan yang lain tentang hal ini?
@.., pihak asing mengetahui berita bahwa Indonesia masih normal sitasinya, dan ingat juga, scr tdk langsung berita baik or buruknya Indonesia itu sangat pengaruh ke perekonomian n pariwisata loh! Ini jg pengakuan salah satu guru marketing bahwa semangat IndonesiaUnite waktu itu sangat membantu, dan diakui juga oleh pihak dinas pariwisata.
Terima kasih, ini menjawab beberapa concern saya yang sempat muncul ketika saya menanggapi mas Pitra
Dan pertanyaan terakhir saya untuk mbak Leonita: kalau memang benar kata atau cara pemakaian “death” tidak benar untuk #indonesiaunite di dalam konteks crowdsourcing, boleh saya tahu opini mbak Leonita sendiri alasan di balik pernyatan tersebut? Karena menurut saya, walaupun mereka tidak secara sukarela berpartisipasi, mereka secara tidak langsung tertangkap di dalam causal nexus yang meng-crowdsource-kan nama twitter di Indonesia.
Saya mohon mbak bermain di konteks ini karena inilah konteks yang saya angkat, bukan konteks yang lain, supaya fair juga untuk saya
Mo komen bingung, soalnya antara postingan dan komen sama panjangnya
Nice article.
Halo wiwikwae,
silahkan menanggapi artikel utamanya saja
kalau menanggapi semuanya sekaligus bisa mumet hahaha
Media yang lahir di Indonesia karena adanya kejadian negatif muncul silih berganti dari zaman ke zaman. Masih ingat Dunia Dalam Derita…oops maksud saya dalam Berita…
KONTAN, sempat menjadi media ekonomi utama dengan meramalkan dan mengutuki kerontokan ekonomi Indonesia. DETIK, menjadi brand nomor satu karena kerusuhan Mei dan trend pembaca selalu naik jika ada banjir, tsunami, pesawat jatuh, meninggalnya mbah Surip. Twitter, tentu saja menjadi mainstream akibat kejadian bom.
Semua efek viral selalu terjadi karena adanya ekosistem: kejadian, media yang tepat serta orang-orang yang bersikap dan menggunakan media tersebut. Setiap zaman selalu melahirkan pahlawannya sendiri. Apakah ini perlu dipandang dari sudut untung rugi ataupun bisnis? Di sini saya TIDAK SEPENDAPAT, contohnya melalui kaca mata ini bahkan dibuat menjadi film seperti James Bond Tomorrow Never Dies. Media menciptakan kejadian yang akan menguntungkan dirinya. Wah, ini pandangan berbahaya.
#indonesiaunite adalah sentimen publik, yang sebenarnya sudah ada di hati setiap dari kita, mengapa kita mencabik-cabik negara sendiri dengan bom. Semangat untuk berjuang, untuk bangkit, untuk bersatu, yang terkumpul melalui suara rekan-rekan di media Twitter.
Penciptaan trending topic bisa menjadi sekedar kelucuan seperti #jokoanwar telanjang (http://andisboediman.blogspot.com/2009/09/all-tweets-leads-to-jokoanwar.html), atau #sawityowit saat bulan Ramadhan (http://andisboediman.blogspot.com/2009/08/sawityowit-trending-topics-that.html), bisa juga menjadi kampanye sosial seperti #iranelection dan #indonesiaunite, atau untuk komunikasi brand seperti #cloroxclassrom (http://andisboediman.blogspot.com/2009/09/mom-blogger-viral-mesage-match-in.html). Tujuan berbeda dengan cara yang serupa.
Beberapa rekan yang ada di sini sudah menyuarakan pendapatnya dan mereka adalah orang-orang yang peduli dan terlibat di dalam trending topic #indonesiaunite. It’s about loving and caring about our nation, not about just a short term goal to be number one on Twitter.
Demikian pula dengan kampanye penciptaan brand yang sustainable seperti Ben & Jerry serta Body Shop. Ben & Jerry membuat kampanye against global warming, Body Shop dimotori Anita Roddick punya kampanye against animal testing. Ini bukanlah brand sekedar ikut memanfaatkan topik sesaat. Di sini brand menjadi wahana untuk bersuara untuk mewakili something bigger than the brand itself.
Keep up the good work!
Andi S. Boediman
http://www.ideonomics.com
Halo Pak Andi,
Saya sangat suka dan sangat menghormati komentar yang charitable seperti ini
@”It’s about loving and caring about our nation, not about just a short term goal to be number one on Twitter.”
Yes, exactly. Dan inilah yang saya tanyakan dari awal.. kalau betul loving dan caring, then apa bentuk konkrit dari effect dan aftermath dari #indonesiaunite itu sendiri? Beberapa rekan di atas sudah membantu saya untuk melihat ke dalam lingkup yang lebih luas tapi saya rasa komentar kamu di bawah ini adalah yang paling membantu.
@”Apakah ini perlu dipandang dari sudut untung rugi ataupun bisnis? Di sini saya TIDAK SEPENDAPAT, ”
Ok, jadi kalau saya mengerti betul pernyataan kamu di atas, framework yang kamu pakai di sini adalah nasionalisme yang tidak seharusnya dan tidak sepatutnya ditimbang-timbang in terms of untung / rugi dan kamu menyatakan bahwa saya menggunakan fundamental understanding dan perspective yang tidak sesuai.
Dan berarti di sini kamu menyatakan bahwa framework dan kacamata yang awalnya saya pakai untuk mengutarakan pertanyaan-pertanyaan saya pada dasarnya salah dan bahwa aftermath dari #indonesiaunite itu sendiri tidak penting, yang penting adalah semangat yang dikandung dan diwujudnyatakan melalui hashtag dan kegiatan-kegiatan (dan tweet-tweet) yang melibatkan hastag itu sendiri.
Great, ini sangat bisa diterima dengan akal sehat.
Terima kasih banyak atas dukungan dan masukannya Pak Andi.
@Apa pandangan mbak Leonita ketika hastag tersebut dipakai tidak sebagai perwakilan semangat nasionalisme, tapi cuma ikut-ikutan? Saya tahu beberapa tweet yang menyertakan #indonesiaunite tapi hanya karena that’s the hot stuff waktu itu dan bukan dari diri mereka sendiri. Tweet semacam itu bercampur dengan tweet yang memang benar-benar mengusung semangat Indonesia.
aku suka pertanyaan serta statement mas yang ini. aku gak mau bahas tentang #indonesiaunite. tapi “ikut ikutan” ini yang emang jadi trend, bukan twitter ato yang lainnya. hiiiiihhiii CMIIW
Halo mas Ilham,
Terima kasih banyak atas komentarnya
btw jadi cerita pernyataan dan pertanyaan saya yang lainnya mas Ilham tidak suka nih? hahaha
{ 1 trackback }