This is the last psychological piece derived from my internet marketing obsession for 2009. Happy New Year everyone! I hope you will have a major blast this evening
Jangan lupa untuk subscribe ke blog ini melalui email ataupun rss (lihat kolom sebelah kanan). Kamu juga bisa follow @pandutruhandito di twitter.
P.S. post ini blum 100% rampung. Saya lagi ngebut ngetik sebelum berangkat ke Singapur. Bagian yang kurang adalah: revisi, some pictures, konklusi dan personal recommendation untuk menanggulangi masalah ini. Cek lagi nanti malam atau besok, mustinya sudah saya finalize. Sorry for the inconvinience.
Sebagai pembaca blog, saya rasa sebagian besar dari kamu sudah kenal dengan kata “subscribe”. Tapi untuk amannya, saya akan jelaskan secara singkat. Pada dasarnya, ini seperti kamu berlangganan koran. Ketika ada koran baru yang terbit, sebuah copy akan dikirimkan ke alamat yang kamu tulis ketika kamu mendaftar sebagai pelanggan.
Ini sama persis untuk subscription pada sebuah situs / blog. Kamu mendaftarkan dengan menggunakan alamat email kamu. Ketika blog / situs tersebut mengeluarkan sebuah update, sebuah alert akan dikirimkan ke alamat email yang kamu gunakan ketika kamu mendaftar.
Untuk subscribe melalui rss / feed reader, konsepnya tetap sama: kamu akan diberikan alert dan updatenya akan diantarkan ke kamu secara otomatis. Hanya saja mediumnya adalah melalui aplikasi reader (seperti google reader) dan bukan melalui email. Kalau kamu subscribe melalui rss, kamu juga tidak perlu memberikan data apapun kepada pemilik reader, alias kamu bisa mendapatkan benefit dari subscription secara anonymous. Enak kan?
It is simple yet it seems so problematic
Selama setahun belakangan saya mengelola beberapa blog yang berbeda-beda topiknya. Blog ini memang baru mulai saya tekuni sekitar 1 bulan yang lalu tapi blog yang lainnya sudah berumur hampir 10 bulan lebih. Selama setahun belakangan saya juga banyak berkeliling blogosphere dan melihat banyak blog lainnya. Dan ada 1 problem yang selalu saya temukan di dunia blog Indonesia: Subscription.
Beberapa blog yang saya temukan (dan saya juga sudah subscribe) sangat sangat bagus isinya tapi subscribernya sangat sedikit. Jika dibandingkan dengan blog di luar negeri, jumlah subscriber blog-blog yang top di Indonesia kalah jauh.
Ini sungguh disayangkan dan terkadang membuat saya bertanya-tanya. Padahal prosesnya dibilang susah juga ngga, dan para pembaca juga akan diuntungkan dengan menerima update yang sangat timely. Yang paling jelas terasa efeknya bagi para pembaca adalah naiknya faktor kenyamanan karena tidak perlu lagi bolak-balik mengunjungi blog tersebut untuk memeriksa apakah sudah diupdate atau belum. Ada update = diberitahu; tidak ada update = tidak diganggu.
Lalu mengapa problem ini terjadi?
Saya terus terang belum tahu persisnya, tapi ada beberapa kandidat penjelasan yang saya rasa cocok untuk kasus ini:
1. Pengalaman buruk dengan subscription
Ini rasanya ada pemikiran yang paling obvious. Saya yakin kamu pernah diminta untuk memasukkan alamat email ketika mau download mp3. Kemudian besoknya ketika kamu mengecek email, inbox kamu sudah penuh dengan spam dan junk yang ngga karuan topik dan asal usulnya.
Mungkin para pengunjung mulai anti dengan subscription untuk menghindari spam.
2. Blog kita ditulis dengan bahasa Indonesia sehingga menciptakan virtual geographical boundary
Sebenarnya internet memiliki struktur dasar yang tidak mengenal batas geografis. Semua orang dari mana saja bisa mengakses ke mana saja. Makanya market / pasar /dunia sekarang ini disebut-sebut telah menjadi datar.
Tapi karena kebanyakan blog Indonesia ditulis dengan bahasa native kita, kita menciptakan sebuah batas dimana orang-orang lain yang tidak mengerti bahasa kita tidak bisa mengakses tulisan kita. Mereka bisa membuka dan membaca tulisan kita, tapi mereka tidak memiliki akses ke dalam artinya. Ini bagaikan kita menciptakan blog / situs dengan eksklusivitas untuk orang Indonesia saja dan orang luar tidak boleh masuk. Dan karenanya jumlah pengunjung kita menjadi lebih sedikit. Pengunjung sedikit = proporsi orang yang subscribe juga lebih sedikit.
3. Pengertian, pemahaman dan apresiasi akan blog masih belum dewasa di Indonesia
Mungkin orang-orang Indonesia masih belum mengerti betul “apa sih blog itu”. Mungkin mereka lebih suka akan sumber berita yang memiliki otoritas seperti kompas dan detik. Blog dianggap sebagai bukan sebagai sumber wawasan, melainkan hanya sebuah log / catatan online.
Kalau tidak paham benar mengenai blog, bagaimana bisa mengerti soal subscribe?
4. Orang Indonesia tidak cocok dengan blog: malas membaca
Budaya malas membaca sepertinya sudah mendarah daging di masyarakat. Blog memang cenderung memiliki isi yang padat dengan tulisan dan terkadang bisa cukup memakan waktu dan konsentrasi untuk membacanya.
Subscribe sebenarnya sama persis dengan fitur “follow” di twitter. Dengan kamu mem-follow orang, kamu pada dasarnya subscribe / berlangganan ke tweetnya dia dan kamu akan mendapatkan alert setiap dia memberikan update.
Tapi herannya, follower di twitter bisa banyak sekali sedangkan subscriber di blog jumlahnya sangat sedikit. Orang pada umumnya bisa memiliki sampai ratusan follower, padahal untuk blog-blog besar mempunyai 100 subscriber saja memerlukan cukup banyak waktu. Apakah ini dikarenakan perbedaan jumlah karakter dan nuansa log yang ditulis antara di blog dan di microblog?
5. Proses registrasi untuk subscribe susah
Mungkin ketimbang “susah”, lebih tepat kalau dibilang: cognitive resource yang dipakai untuk subscribe tidak seimbang dengan bayangan mereka akan benefit yang didapat. Jadi mungkin para pembaca membayangkan bahwa untungnya dengan subscribe hanyalah dikirimkan update otomatis sedangkan untuk subscribe mereka perlu memasukkan email, belum lagi harus melewati captcha yang terkadang njelimet untuk dibaca. Belum lagi harus verifikasi melalui link di email yang akan dikirim…… hmmm… entah berapa lama lagi.
Ada cognitive resource yang terpakai tapi value yang terlihat imbalannya oleh pembaca hanyalah sebuah proses update yang otomatis. Mendingan bolak-balik ketik pandutruhandito.com atau klik bookmarknya untuk ngecek sudah ada update atau belum daripada mesti “susah-susah” subscribe.
Ini juga bisa menjelaskan mengapa orang gampang sekali untuk follow tapi susah untuk subscribe. Kalau di twitter kita hanya perlu untuk menekan tombol follow dan Voila! kita sudah ter-subscribe untuk menerima tweet dari orang tersebut. No captcha, no verifikasi, no teken mouse lebih dari 1 kali.
Ini juga menyinggung budaya instant gratification yang makin melekat dengan generasi masa kini: generasi indomi. Maunya serba cepat dan instan. “Ngga pake lama!” dan tidak mau bersusah-sedikit untuk keuntungan jangka panjang.
6. Bagaimana dengan usaha marketingnya itu sendiri?
Mungkin situs / blog tersebut tidak dipasarkan secara maksimal. Banyak penulis blog yang sudah lama berkarya tapi masih berkutat di lingkungan yang itu-itu saja. Mereka sepertinya sudah menemukan comfort zone mereka dan ogah keluar. Padahal ada banyak kesempatan di luar sana.
Para penulis juga banyak yang tidak mencoba untuk menulis dengan ide yang cross-contextual dan cross-domain. Tidak hanya menulis di dalam lingkup bidang keahliannya saja tapi juga dihubungkan dengan kejadian-kejadian lainnya di luar sana.
Dalam pemasaran entry di blog / situs mereka, mereka juga mungkin tidak mencoba untuk pergi ke beberapa niche yang baru dan tidak mencoba untuk membentuk relevansi antara bidang lain dan bidang keahlian mereka.
7. Atau mungkin malah semuanya???
Apakah ini benar-benar sebuah problem? Apakah kita sebaiknya bersikap pasif atau proaktif?
Mungkin tidak semua blogger perduli dengan angka subscriber mereka. Ada beberapa yang beranggapan bahwa blog yang mereka tulis ditujukan untuk menyalurkan hasrat pribadi mereka untuk menyalurkan isi pikiran melalui media yang mirip sebuah diary ini. Dan bagi mereka, tidak masalah jika yang mendengarkan mereka banyak atau tidak, yang penting mereka sudah mengeluarkan uneg-uneg. Kalau ada subscriber syukur.. kalau tidak ada juga tidak apa-apa.
Pandangan saya pribadi: para pembaca blog saya adalah orang-orang yang sangat penting. Saya merasa bahwa passion, hasrat saya memiliki nilai (edukatif) tersendiri yang saya ingin agar orang-orang mendengarkan. Seperti yang tertulis di tagline saya di atas, tujuan utama blog ini adalah untuk meredefinisikan dan memulihkan internet marketing di Indonesia. Blog ini saya pakai sebagai sebuah medium untuk mencapai tujuan tersebut. Dan tujuan saya tidak akan terwujud: ideologi, konsep dan edukasi yang ingin saya sampaikan tidak akan menjadi nyata tanpa adanya pendengar.
Dari sekian banyak pendengar / pembaca saya, saya juga mengharapkan ada sebagian kecil yang menjadi “fans” setia saya; yang selalu ingin mendengarkan apa yang saya katakan. Dan mereka adalah para subscriber. Mereka adalah orang-orang yang berstatus lebih di mata saya. Bukan artinya pengunjung lainnya tidak bernilai, tapi subscriber adalah orang yang paling “attached” dengan blog ini. Karena attachment yang ada itulah, pelanggan saya bukan hanya berstatus sebagai pembaca setia, tetapi mereka juga adalah orang-orang yang memiliki kans tertinggi untuk melakukan consumer evangelism.
Karena itulah, di mata saya, menaikkan jumlah subscriber seharusnya menjadi salah satu goal utama sebuah blog.
Yang saya sendiri coba lakukan untuk meningkatkan subscriber
Saya selalu mencoba untuk membuat konten berkualitas dan yang memberikan nilai bagi para pembaca saya. Jika orang melihat value yang diberikan melalui tulisan di blog ini, setidaknya mereka punya alasan untuk menjadi seorang pelanggan.
Selain dari itu, saya mencoba untuk membuat konten dari beberapa entry saya cross-contextual dan cross-domain of topic. Contohnya adalah entry saya mengenai sisi gelap perkembangan twitter di Indonesia. Di entry tersebut, saya menyinggung twitter, sebagai salah satu social media paling berkembang di Indonesia, dan koneksinya dengan nasionalisme dan semangat kebangsaan dimana framework dari pembahasan tersebut tetap saya basiskan kepada aspek internet marketing: web analytics dan competitive intelligence.
Intisari dari entry tersebut tetaplah Internet Marketing; entry saya harus konsisten dengan tujuan blog ini. Tapi saya coba untuk tidak menjadi self-centric dan tetap berkutat di lingkungan marketing online. Saya coba untuk melihat keluar dan menghubungkan entry yang saya tulis dengan aspek-aspek di dunia luar. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa internet marketing memiliki nilai dan value yang bisa diterapkan di berbagai macam konteks, situasi dan kondisi.
Selain dari konten, saya juga mencoba agar usaha internet marketing saya cross-contextual. Saya usahakan agar saya tidak hanya berputar-putar di topik-topik yang senada dengan blog saya saja, tetapi juga beberapa hal-hal lainnya di dunia nyata dan di dunia internet. Memang tidak semua tempat di mana saya menerapkan usaha marketing saya berhubungan dekat dengan topik blog saya. Dan implikasinya, saya selalu perlu berpikir untuk menemukan cara membentuk relevansi di seputar topik-topik yang sepertinya tidak saling berhubungan ini.
Intinya saya mencoba untuk membuat segalanya menjadi appropriately leaky: tidak hanya seputar internet marketing, harus berani keluar dari topik blog, tapi juga jangan sampai terlalu off-topic dan sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan online marketing.
Saya akan mencoba sesuatu
Untuk sekarang ini, saya ingin mencoba mengganti headline di atas kolom tempat subscribe di sebelah kanan. Sekarang tulisannya adalah “Langganan ke Blog ini”, saya akan coba ganti menjadi “Follow Blog ini”. Mungkin kata ini akan mengurangi nuansa intimidasi yang mungkin muncul karena kata “langganan” / “subscribe”. Let’s see what happens
Apa nilai subscriber di mata kamu? Apakah kamu menghargai mereka atau menurut kamu mereka biasa saja? Apakah kamu setuju dengan saya bahwa rendahnya subscriber count / blog di Indonesia bila dibandingkan dengan blog-blog di luar adalah sebuah problem?
Email entry ini ke teman kamu
Kalau kamu suka entry ini, mungkin kamu juga akan suka:
RT 
via RSS
via e-mail:

{ 17 comments… read them below or add one }
Perkenalkan, ini komentar pertama saya di blog. Nama saya Reza dan umur saya 16 tahun. Saya ingin menanggapi postingan ini. Menurut saya, jumlah subscriber yang sedikit disebabkan ketidakbutuhan pengunjung dengan content blog tersebut. Mengapa? Bisa jadi karena salah target, blog kita bericara tentang game, sedangkan pengunjungnya adalah anak muda yang mencari info tentang beladiri. Jika pengunjung datang dari search engine ini bisa disebabkan content kita mengandung keyword beladiri, seperti capoeira, dan kebetulan kita sedang membahas game Tekken (yang mana terdapat karakter yang menggunakan Capoeira, yaitu Eddie Monteiro).
Maka dari itu, SEO juga sangat penting, dan yang lebih utama lagi adalah targeted traffic. Jika pengunjung datang ke blog kita dan melihat isi blog kita cocok dengan apa yang dicari, kemungkinannya akan lebih besar untuk dia berlangganan ke blog kita. DAN, apabila blog kita membahasa tentang kesehatan, makanan, dll yang notabene target pembacanya adalah ibu-ibu atau orang tua, jangan harap subscriber akan meningkat karena umumnya mereka TIDAK mengerti dengan yang namanya rss atau feed, alias mereka GAPTEK. Lain halnya dengan blog yang membahas blogging tips atau tutorial ngeblog, pembacanya adalah para blogger yang mengerti apa itu rss, feed, email subscription, dll. Mereka cenderung berlangganan karena mereka mengerti manfaat dari berlangganan tersebut.
Jadi menurut saya jumlah subscriber yang sedikit disebabkan sifat dari target pengunjung itu sendiri, selain dari faktor-faktor lain seperti content yang tidak berkualitas, maupun bahasa (seperti yang Pandu telah jelaskan). Saya sendiri telah menjadi subscriber blog ini beberapa hari yang lalu karena kagum dengan tema yang diangkat dan kualitas content-nya. Jika kak Pandu tertarik, joinlah di forum Internet Marketing Indonesia, di http://kakus.org/forum/ , saya sendiri menjadi premium member di situ.
Halo Reza,
salam kenal ya
@”apabila blog kita membahasa tentang kesehatan, makanan, dll yang notabene target pembacanya adalah ibu-ibu atau orang tua, jangan harap subscriber akan meningkat karena umumnya mereka TIDAK mengerti dengan yang namanya rss atau feed, alias mereka GAPTEK. Lain halnya dengan blog yang membahas blogging tips atau tutorial ngeblog, pembacanya adalah para blogger yang mengerti apa itu rss, feed, email subscription, dll”
Ini pendapat yang bagus sebagai tambahan point-point yang saya sebutkan di atas. Konteks dari post menentukan audience dan sifat bawaan audience berbeda-beda, ada yang gaptek dan ada yang sudah lebih kenal.
Mengenai salah target, saya tidak bisa berargumentasi lebih jauh karena saya sangat tahu bahwa hal tersebut sering terjadi secara alamiah dan bukan karena kelalaian pemilik blog (saya berencana menulis entry tentang ini ke depannya).
Mengenai pengunjung tidak butuh konten, saya rasa ini sedikit lebih tricky. I mean, ada begitu banyak blog Indonesia di luar sana dan semuanya memiliki “penyakit” serupa. Blog mereka bagus tapi yang subscribe hanya sedikit. Saya rasa banyak orang yang butuh hanya saja salah satu faktor di atas menjadi penghambat mereka untuk subscribe
Good comment Reza! Saya tunggu kunjungan kamu berikutnya
Wah, bersambung! gpp…yang penting artikel ini mengingatkan pentingnya subcribe. Paling tidak menunjukan dukungan kepada blogger-blogger lain untuk terus menulis, sehingga semakin hari semakin baik.
Sayapun telah melakukan hal yang sama dengan mas Pandu. Datang ke blog orang, artikel menarik saya menjadi subcribernya. Membuat wawasan bertambah.
Halo,
sudah saya selesaikan!
ya, saya merasa subscription itu penting dan memiliki value yang jelas untuk penulis dan juga pembaca. Herannya kenapa jumlah subscriber sedikit sekali di Indonesia? Apakah karena angka pembaca dan peminat blog juga belum begitu banyak?
Kalau soal subscribe, saya kira soal kebiasaan. Most people don’t know how to subcribe, don’t use RSS reader. It’s geek toys. Mereka fasih dengan facebook tapi tidak dengan e-mail.
Tapi yang saya percaya adalah mereka tidak tahu bahwa mereka bisa subscribe. Dan sisanya memang tidak memerlukan berlangganan, karena hanya perlu sekali baca setelah ditemukan lewat google.
Halo Toni,
@”Mereka fasih dengan facebook tapi tidak dengan e-mail.”
Saya rasa bukan masalah kefasihan tapi memang masalah kebiasaan yang kamu bilang dan tingkat ketertarikan orang akan blog kalah jauh dengan minat mereka kepada microblogging service seperti twitter dan status update dari facebook.
@”hanya perlu sekali baca setelah ditemukan lewat google.”
Ini sepertinya tepat. Somehow orang-orang yang datang dari search engine agak tidak sabaran. Mungkin saya akan menyinggung hal ini di entry ke depan.
@”hanya perlu sekali baca setelah ditemukan lewat google”
ini sepertinya benar sekali.. dan pola perilaku searcher mungkin
Saya sudah memutuskan untuk tidak memakai feed reader dan subscribe blog lagi. Blogwalking pun hanya jika ingin. Saya tahu akan merasa rugi jika tertinggal beberapa tulisan di blog bermutu sejenis ini.
Setidaknya saya masih akan berniat berkunjung kembali di kemudian hari ke blog ini. Karena saya sudah hapal URL blog Mas Pandu. Jika sempat.
Apakah niche blog berpeluang akan memperoleh jumlah pelanggan lebih banyak?
Oh? Boleh tahu alasan kenapa mas Dani sudah ogah subscribe? Hanya sekedar keputusan pribadi kah?
Secara matematis, niche lingkupnya lebih kecil dan karenanya orang-orangnya lebih spesifik dan biasanya jumlahnya pun lebih sedikit. Tapi saya rasa perolehan subscriber lebih bergantung kepada penjagaan relevansi antara sumber traffic dan isi konten (seperti yang diungkapkan Reza di atas). Kualitas konten yang bermutu juga tentunya sangat penting agar memiliki nilai di mata pembaca.
Sama seperti goal blog dan situs pada umumnya: semua berasal dari pre-click marketing yang mengundang, dilanjutkan dengan penjagaan relevansi dari pre-click marketing ke post-click marketing agar pengunjung berubah menjadi pembaca, dan seterusnya adalah usaha post-click marketing di situs yang harus bisa meng-convert pembaca menjadi subscriber.
ya, keterbatasan pribadi. tapi saya sudah tahu kemana mencari rujukan internet marketing yang bermutu sekarang. saya akan ke sini lagi.
makasi mas pandu. lanjut…
ikutan nimbrung nih, saya terbilang masih nubi. Menurut info yang saya dapatkan dari Bang Rudy Azhar bahwa disini menyediakan informasi seputar internet marketing, jadi saya langsung ke blog ini.
Kalau soal subscribes, benar apa yang ditulis oleh admin, sebagai gambaran saya mengadakan sebuah polling kecil-kecilan tentang apa itu subscribes blog kepada teman-teman di kantor, dan hasil poling yang fantastis..100% menjawab tidak tahu apa itu subscribes, padahal koneksi internet di situ 24 jam.
mungkin juga budaya ngeblog dan membaca blog di negeri ini masih kurang?, saya juga tidak mengerti. Bagaimana kalau blog ini yang mempeloporinya, misalnya mengadakan kontes SEO atau polling berhadiah dengan tajuk “budayakan membaca (blog)”. Mungkin bisa menarik perhatian masyarakat bahwa betapa pentingnya membaca terutama blog yang berkualitas seperti blog yang sedang saya singgahi ini.
Buat Admin, sukses selalu dan tidak lupa saya mengucapkan selamat tahun baru 2010.
Halo,
selamat datang di blog ini
Saya juga merasa budaya blogging blum begitu kuat di sini dan karenanya aspek-aspek yang berhubungan dengan blogging juga kurang dipahami. Herannya, sodara barunya, microblogging, malah sudah tenar di Indonesia. Rasa-rasanya karena microblogging bisa memberikan reputasi dan atensi online yang lebih cepat ketimbang blogging. Belum lagi sifat microblogging juga lebih fun ketimbang blogging yang lebih menguras pikiran.
Terima kasih untuk sarannya. Saya belum ada rencana untuk mengadakan lomba atau semacamnya. Approach saya untuk merubah paradigma orang-orang mengenai internet marketing lebih soft dan tidak secara frontal seperti menyelenggarakan kompetisi. I’ll keep the lomba thing in mind, it’s a good thought
Saya tunggu kunjungan dan komentar berikutnya!
Salam kenal Mas Pandu, saya suka tulisan anda.
Saya pribadi hanya subscribe ke sedikit blog karena beberapa alasan; ada diantaranya yang sudah dikemukakan oleh Reza Winandar, yaitu mengenai atribut yang melekat pada konten itu sendiri (misalnya kualitas).
Alasan lainnya adalah pada proses/cara mendapatkan konten. Saya merasa lebih “puas” jika bisa “berburu dan menemukan” konten yang saya anggap menarik daripada jika konten tersebut diantarkan ke tempat saya. Sama puasnya dengan orang yang berkeliling pertokoan untuk mencari barang diskon, meskipun kadang biaya yang dikeluarkan lebih besar daripada penghematan yang kita dapat dari diskon. Bukan masalah efisiensi, tapi masalah memuaskan diri sendiri.
Mengapa angka blog subscription lebih tinggi di luar negeri daripada di Indonesia? IMHO karena masalah kebiasaan. Di sana delivery untuk berbagai macam hal sudah biasa, sedangkan kita disini terbiasa untuk “pergi membeli/mengambil”. Dan IMHO lagi, ini bukan masalah. Subscriber memang berharga…but subscription is a means, not an end.
Sedikit berbagi pengalaman mengenai kebiasaan, yaitu saat memasarkan software untuk pasar lokal melalui web. 9 dari 10 orang yang menghubungi akan bertanya “harganya berapa?” dan kemudian menawar harga. Padahal harga sudah dicantumkan cukup mencolok di website dengan banner 2x lebih besar dari foto Mas Pandu, dan secara implisit mereka sudah tahu kalau itu harga pas
Mulanya jengkel…tapi akhirnya “upacara” tawar-menawar ini bisa dijadikan sarana ngobrol persuasif yang terbukti menaikkan konversi.
Halo,
selamat datang di blog ini
hmm banyak juga ya yang punya alasan pribadi untuk ngga subscribe; saya ngga nyangka hehehe..
@”IMHO lagi, ini bukan masalah. Subscriber memang berharga…but subscription is a means, not an end.”
kalau untuk blog saya rasa subscriber adalah salah satu goal utama untuk menunjang viability sebuah blog. Subscription memberikan cara yang mudah (untuk pembaca maupun penulis) agar konten kita dibaca. Dan di mata saya, karena blog sifatnya menyampaikan isi pikiran / ide, audience yang membaca adalah sumber kehidupan dari blog tersebut. No pembaca = ide hanya jalan di tempat.
Tapi saya setuju juga kalau subscription adalah sebuah means. But means tersebut adalah sebuah funnel yang besar; sangat besar sehingga bisa dianggap sebagai sebuah microgoal
Good comment! Saya tunggu kunjungan berikutnya
Halo Mas Pandu….selamat tahun baru 2010
wah tulisan yang menyentak, saya merasa “diingatkan”, maklum saya tidak gape internet marketing…..ikut ikut nimbrung, dugaan saya sih budaya membaca kita “belumlah” setinggi di negara lain seperti US misalnya, jadi membaca blog dengan penuh perhatian dan fokus bukanlah kebiasaan yang “mudah” kalo tidak mempunyai tradisi membaca yang kuat. Membaca itu barangkali mudah tapi “memahami” serta “menginternalisasi” tulisan (blog) yang dibaca….sungguh bukanlah lah mudah, tapi budaya “komentar pendek” …..yang mohon maaf …..tidak terlalu membutuhkan proses seperti diatas sepertinya di masyarakat kita lebih mendominasi….alhasil facebook dan twitter lebih “laku”…..ini pendapat pribadi.
Btw, boleh disaring cara memasang rss atau subscription di blog, terima kasih sebelumnya Mas Pandu….keep blogging Mas Pandu….
Halo mas Donny,
selamat tahun baru juga!
Saya setuju sama mas Donny dan perspektif bahwa “budaya komentar pendek lebih mendominasi” saya rasa sangat benar adanya. Walaupun agak menyedihkan, memang saya tidak bisa memungkiri bahwa twitter adalah media yang luar biasa kuat karena simplicitynya (mulai dari bentuk, design, cara pemakaian). Saya kemarin ini membaca sebuah post yang mendeskripsikan sedikit tentang kekuatan twitter yang akhirnya menginspirasikan saya untuk mencoba memasang dan memodifikasi twitter plugin yang sekarang tampil di homepage blog ini.
@”boleh disaring cara memasang rss atau subscription di blog”
Baik. Kebetulan topiknya masih seputar blogging, saya akan mendedikasikan satu entry khusus untuk membahas hal ini
Post yang menarik. Saya setuju dengan Mas Pandu, pembaca rutin sangat berharga untuk sebuah blog.
Untuk masalah alasan kenapa blog2 di Indonesia sedikit subscribernya, saya juga sependapat dengan Toni @NaviNot: kebanyakan orang tidak familiar dengan feed, terlebih lagi untuk menggunakannya mereka harus menginstal feed reader (kecuali kalo pake Google Reader). Pemanfaatan internet di Indonesia kebanyakan juga untuk jejaring sosial (facebook, twitter), komunikasi (YM, Kaskus), dan download film/musik/software. Mereka juga hanya sampai sebatas pencari informasi, dan bukan pelanggan informasi.
Untuk solusinya mungkin penggunaan feed perlu *disosialisasikan*. Mas Pandu berminat menulis tutorialnya?
Halo Seagate,
Yap, fenomena “mencari info bukan pelanggan info” memang sangat terasa di Indonesia. Kecuali infomasi bersifat menggelitik / hiburan / membahas orang terkenal biasanya susah laku. saya juga kurang mengerti kenapa; apa orang Indonesia kurang semangat untuk belajar ya?
Kalau soal tutorial saya pernah menulis entry mengenai rss dan subscription. Mungkin kamu bisa coba membaca terlebih dahulu dan jika ada yang kurang, tolong berikan masukan melalui kolom komentar. Kalau sudah cukup layak sebagai “tutorial”, mungkin kamu bisa membantu saya untuk menyebarkannya melalui social media
Terima kasih untuk masukan tambahannya